Hardiknas

Setiap tanggal 2 Mei, bangsa Indonesia memperingati hari pendidikan nasional. Tanggal 2 Mei merupakan tanggal kelahiran tokoh pendidikan Indonesia Ki Hajar Dewantata. Melalui Kepres No 916 tertanggal 16 Desember 1959, tanggal 2 Mei ditetapkan  sebagai hari pendidikan nasional. Saat Menteri Pendidikan dan Kebudayaan dijabat Mashuri SH, peringatan Hari Pendidikan Nasional tahun 1971 dijadikan momentum “menjebol” dinding pemisah sekolah dan masyarakat.

Saat ini, di tahun 2009, ketika Hari Pendidikan Nasional kembali diperingati, masihkah dinding pemisah sekolah dan masyarakat itu? Saat itu, betapa pendidikan kita sudah tidak fungsional. Artinya pendidikan tidak dapat memenuhi kebutuhan masyarakat. Di samping itu, ditilik dari kepentingan anak didik, pendidikan tidak mampu memfasilitasi anak didik kembali ke masyarakat. Lulusan sekolah pada semua jenis dan jenjang pada umumnya belum siap terjun ke masyarakat, sedang untuk melanjutkan ke jenjang pendidikan berikutnya juga tidak cukup memadai. Baca selebihnya »

Hiduplah Hari Ini

Ada dua hari dalam hidup ini yang sama sekali tak perlu anda khawatirkan.

Yang pertama: hari kemarin. Anda tak bisa  mengubah apa pun yang telah terjadi. Anda tak bisa menarik perkataan yang telah terucapkan. Anda tak mungkin lagi menghapus kesalahan; dan mengulangi kegembiraan yang anda rasakan kemarin. Biarkan hari kemarin lewat; lepaskan saja.

Yang kedua: hari esok. Hingga mentari esok hari terbit, anda tak tahu apa yang akan terjadi. Anda tak bisa melakukan apapun esok hari. Anda tak mungkin sedih atau ceria di esok hari. Esok hari belum tiba; biarkan saja.

Yang tersisa kini hanyalah hari ini. Pintu masa lalu telah tertutup; pintu masa depan belum tiba. Pusatkan saja diri anda untuk hari ini. Anda dapat mengerjakan lebih banyak hal hari ini bila anda mampu memaafkan hari kemarin dan melepaskan ketakutan akan esok hari. Hiduplah hari ini. Karena, masa lalu dan masa depan hanyalah permainan pikiran yang rumit. Hiduplah apa adanya. Karena yang ada hanyalah hari ini; hari ini yang abadi.

Anak Didik seperti Botol Kosong?

Salah satu teori yang pernah dianut dalam dunia pendidikan adalah teori tabula rasa.  Teori ini menganggap anak didik laksana botol kosong atau  kain/lilin  putih yang siap diisi apa saja sekehendak pendidik.  Pendidik berwenang penuh untuk menjadikan apapun atas anak didiknya. 

Setujukan Anda dengan teori itu?  Apapun sikap Anda,  nyatanya teori itu pernah berpengaruh dalam dunia pendidikan kita. Bahkan,  hingga saat ini, masih banyak pendidik yang mempraktekkan teori itu di sekolah.  Dalam batas tertentu, hal ini tak menjadi masalah.  Dan mungkin ada benarnya.  Masalah timbul  ketika seorang pendidik menerapkannya secara over dosis, tanpa memadukan dengan teori lain. 

Mungkin masih ada sebagian guru yang memperlakukan siswa sebagai botol kosong yang perlu diisi air. Guru menganggap dirinya sebagai teko yang berisi air.  Dalam hal ini, air itu adalah sejumlah ilmu pengetahuan yang harus dimasukkan ke otak para siswa.  Jika teko itu berisi air putih, maka setelah belajar otak anak akan berisi air putih.  Begitu pula jika teko itu berisi air teh manis, maka pulang sekolah kepala anak akan  berisi teh manis.   Mudah mudahan  saja tidak ada teko-teko di sekolah yang berisi minuman keras yang membuat generasi pemabok. Baca selebihnya »

Keikhlasan

Pernahkah Anda  tiba-tiba merasa amat bahagia tanpa tahu penyebabnya?  Rasa bahagia itu, mungkin saja  diakibatkan oleh rasa ikhlas atas apa yang kita terima,  baik saat menerima  karunia  atau justru ketika menerima musibah.   Mencoba ikhlas  saat mendapati  keadaan yang tidak menyenangkan memang merupakan sesuatu yang amat  sulit.    Saat ditimpa suatu musibah, kita  pasti akan sulit  menerima apa yang terjadi kepada kita. Kita tidak ikhlas.     Baca selebihnya »

Pendidikan Berkulaitas, Kemana Arahnya?

Potret pendidikan kita hingga hari ini tak ubahnya benang kusut. Meski semua mengakui pendidikan adalah modal dasar untuk mencapai segenap kesuksesan sebuah bangsa, namun tidak semua pihak memiliki penjabaran idealitas yang sama. Kualitas pendidikan kita sering mengalami dis-orientasi karena semata-mata mengagungkan selembar ijazah dan lemahnya fokus kebijakan. Selain itu, manajemen pendidikan kita masih lemah, terutama soal peningkatan kualitas.  Baca selebihnya »

Politisi, Belajarlah Matematika SD

Pagi ini,  dalam hujan deras, saya mengantar  anak saya  ke sekolah.  Dua anak saya masih duduk di bangku SD.  Sambil menunggu hujan reda, saya tak langsung pulang. Menunggu sampai mereka masuk kelas, dan mulai belajar.

Ternyata kelas anak saya pada jam pertama belajar Matematika.  Suasana kelas dingin,  pakaian siswa banyak yang basah kehujanan.  Salam keibuan Bu Guru tiba-tiba terasa menghangatkan kelas.  Saya amat terkesan dengan apa yang diajarkan Bu Guru.  Ibu Guru menggambar dua buah lingkaran di papan tulis. Ia menamai lingkaran yang satu Laki-laki, sedangkan lingkaran yang lain Perempuan. Kedua lingkaran itu saling menabrak sehingga terbentuk sebuah bidang kecil yang menjadi bagian yang sama dari kedua lingkaran tersebut (ketika sekolah dulu, ini saya kenal dengan nama diagram Venn).  

Sambil menunjuk bidang tersebut, Ibu Guru berkata, “Bidang ini milik bersama kedua lingkaran.  Daerah yang meerupakan potongan kedua lingkaran ini, akan  diisi  hal-hal yang punya kesamaan  baik yang dimiliki anak laki-laki maupun anak perempuan. Nah, mari kita isi bersama-sama, apa saja yang bisa kita masukkan di tempat ini!” Baca selebihnya »