Konsep Diri Dalam Pendidikan

Seseorang   bukan hanya bisa mengamati obyek yang ada di luar dirinya, melainkan juga terhadap dirinya sendiri. Dengan menga-mati dirinya sendiri, seseorang akan memperoleh gambaran mengenai siapa dan bagaimana  dirinya.  Apa yang kita pikirkan dan rasakan tentang diri kita inilah yang oleh Rakhmat  dinamakan konsep diri.[1]   Dalam bahasa yang lain, Pudjijogiyanti mengartikan  konsep diri   sebagai pandangan dan sikap individu terhadap dirinya sendiri.[2]              Pemahaman lebih jauh tentang konsep diri dapat dilihat dari berbagai definisi yang dikemukakan para ahli. Calhoun dan Acocella menyatakan bahwa konsep diri adalah gambaran mental seseorang yang meliputi pengetahuan, pengharapan dan penilaian terhadap diri  sendiri.[3]  Sedangkan menurut Klausmeier, konsep diri adalah sejum-lah persepsi seseorang terhadap dirinya sendiri. Klausmeier menjelas-kan pula bahwa konsep diri merupakan kesadaran/pemahaman  seseorang atas siapa dirinya dan bagaimana penampilan serta kemampuannya. [4]  Pendapat lain dikemukakan oleh Burns, yang menganggap konsep diri sebagai suatu organisasi dari sikap-sikap diri (self attitudes).  Menurut Burns,   konsep diri merupakan persepsi, konsep-konsep dan evaluasi individu mengenai dirinya sendiri, termasuk gambaran dari orang lain terhadap dirinya yang dia rasakan serta  gambaran tentang pribadi yang dia inginkan dan dipelihara dari suatu pengalaman lingkungan yang dievaluasikan secara pribadi.[5]   Sedangkan definisi Atwater, yang dikutip Tjipsastra, mengartikan  kon-sep diri sebagai  cara seseorang melihat diri sendiri, tersusun dari semua persepsi mengenai diri sebagai subyek dan obyek beserta perasaan-perasaan, nilai-nilai dan keyakinan-keyakinan yang ber-kaitan.[6]Dari beberapa pendapat tersebut dapat disimpulkan bahwa konsep diri adalah  pemahaman/pikiran, perasaan, penilaian dan peng-harapan seseorang terhadap dirinya sendiri, termasuk perasaan   seseorang  tentang bagaimana orang lain menilai dirinya.Konsep diri mencakup aspek yang luas dalam kepribadian manusia. Paling tidak, menurut Hurlock, konsep diri  meliputi  tiga  komponen yaitu: perceptual, conceptual, dan attitudinal.[7]   Komponen perceptual merupakan gambaran-diri seseorang yang berkaitan dengan tampilan fisiknya, termasuk daya tarik/kesan yang dimilikinya bagi orang lain. Oleh Hurlock   komponen perceptual ini juga disebut sebagai  konsep diri  fisik (physical self-concept).  Adapun komponen conceptual, yang disebutnya juga sebagai konsep diri psikhis (psychological self-concept) merupakan gambaran ciri-khas  seseo-rang atas dirinya, kemampuan/ ketidakmampuannya, latar belakang /asal-usulnya serta masa depannya. Sedangkan  komponen  attitudinal adalah perasaan-perasaan seseorang terhadap dirinya sendiri, sikap terhadap statusnya, kehormatan, rasa harga diri, rasa kebanggaan, rasa malu, dan sejenisnya.[8]  Melihat ruang lingkupnya yang semacam itu, maka komponen attitudinal ini dapat dikatakan sebagai konsep diri yang termasuk  aspek sosial. Sementara itu Shavelson, Hubner dan Stanton seperti dikutip Klausmeier,   mengklasifikasikan konsep diri menjadi dua, yaitu konsep diri akademik dan konsep diri non-akademik. Konsep diri non-akademik meliputi konsep diri sosial, konsep diri emosional dan konsep diri fisik.[9]    Dibanding dengan pendapat Hurlock, klasifikasi ini tampaknya agak berlainan, karena dalam klasifikasinya Hurlock tidak menyebutkan adanya konsep diri akademik dan emosional. Namun demikian, kedua pendapat ini pada dasarnya tidak berbeda, sebab kemampuan akademis dan aspek emosional seseorang sebenarnya berkaitan dengan aspek psikhis. Oleh karena itu komponen akademik dan emosional ini bisa saja dimasukkan ke dalam psykhological self-concept sebagaimana disebutkan  Hurlock.    Mengenai komponen konsep diri ini,   Burns  menjelaskannya dengan sudut pandang  yang agak berbeda.  Menurutnya, konsep diri  meliputi empat komponen yaitu: kognitif (keyakinan atau pengeta-huan), afektif/emosional,  evaluasi dan  kecenderungan merespon.[10]   Hal ini   tentu saja didasari oleh pandangan Burns yang menganggap  konsep diri sebagai organisasi dari sikap-sikap diri (self-attitudes).  Dengan pandangan yang demikian, maka menurut Burns komponen konsep diri sama halnya dengan komponen sikap pada umumnya.  Sebagai suatu sikap, konsep diri tentu saja mempunyai obyek, yang dalam hal ini  adalah dirinya sendiri. Burns dengan mendasarkan pada pendapat Strang dan Staines, menyebutkan  adanya tiga  aspek  diri  yang disikapi,  yaitu : diri yang dikognisikan (diri yang dasar ), diri sosial  (diri yang lain), dan diri ideal.[11]    Konsep diri dasar merupakan persepsi individu mengenai dirinya secara  apa adanya seperti   kemampuannya, statusnya, dan peranannya. Diri sosial adalah apa yang diyakini individu berdasarkan bagaimana orang lain mengevaluasi dirinya. Sedangkan diri ideal adalah semacam pribadi yang diharapkan oleh individu tersebut.Pendapat lain yang lebih rinci juga disampaikan oleh Cawagas.   Menurut Cawagas, seperti  dikutip Pudjijogyanti, konsep diri mencakup seluruh pandangan individu terhadap dimensi fisiknya, karakteristik pribadinya, motivasinya, kelemahannya, kepandaiannya, kegagalan-nya dan sebagainya. Ditegaskan pula bahwa  konsep diri meliputi dua komponen yaitu komponen kognitif dan komponen afektif. [12] Komponen kognitif merupakan pengetahuan/pemahaman individu tentang keadaan atau fakta-fakta yang ada pada dirinya.  Komponen kognitif ini memberikan penjelasan tentang gambaran diri (self-picture) seseorang, sehingga  akan membentuk citra diri (self-image) orang tersebut. Misalnya seorang anak menggambarkan dirinya sebagai: saya adalah seorang pria, bertubuh tegap, seorang siswa SMP Terbuka, anak sulung, anak desa,  anak  cerdas,  anak yang hobi membaca, dan seterusnya. Adapun komponen afektif, merupakan penilaian atau perasaan  individu terhadap dirinya.  Peniliaian secara afektif  akan membentuk penerimaan terhadap diri (self-acceptance) dan harga diri (self-esteem) seseorang. Rasa harga diri sebagai hasil penilaian diri misalnya dapat berupa: saya siswa paling pandai di kelas, saya disenangi oleh teman, saya anak yang selalu sukses  mengatasi masalah, dan sebagainya.Konsep diri merupakan salah satu faktor yang sangat menentukan keberhasilan seseorang dalam berinteraksi sosial sebab, menurut Rakhmat, seseorang memiliki kecenderungan untuk berperi-laku sesuai konsep dirinya.[13]  Seperti apa kualitas konsep diri seseo-rang, tentu saja tergantung bagaimana individu tersebut memandang dirinya sendiri dalam  berbagai aspeknya.  Setiap individu memiliki kualitas konsep diri yang berbeda-beda. Kualitas konsep diri berada dalam kontinum dari konsep diri yang negatif/rendah hingga konsep diri yang positif/tinggi.    Secara ekstrim,  konsep diri seseorang dapat dikategorikan  ke dalam kelompok konsep diri negatif atau kelompok konsep diri positif.  Namun, dalam kenyataannya  tidak ada individu yang  konsep dirinya sepenuhnya  negatif atau sebaliknya.  Meskipun demikian, secara teoritis banyak ahli yang menggunakan perbedaan kualitas konsep diri tersebut untuk menjelaskan karakteristik perilaku seseorang.Calhoun dan Accocela menjelaskan kualitas konsep diri seseorang berdasarkan tiga dimensi: pengetahuan, evaluasi dan pengharapan seseorang atas dirinya. Atas dasar itu, mereka mendis-kripsikan beberapa karakter seseorang sesuai kualitas konsep dirinya, yang secara ringkas dapat  dijelaskan sebagai berikut.Pada  dimensi pengetahuan, jika seseorang memiliki konsep diri negatif maka ia tidak mempunyai pandangan yang teratur tentang dirinya sendiri, sehingga ia tidak mempunyai kestabilan dan keutuhan  diri.   Seseorang dengan konsep diri negatif, ia tidak  mengetahui siapa dirinya, apa kelebihan / kekurangannya serta apa   yang dia hargai dalam hidupnya. Sebaliknya, orang dengan konsep diri positif  ia akan dapat mengenal dengan baik siapa dirinya.  Selain  itu ia akan dapat memahami dan menerima berbagai fakta dan keadaan yang ada pada dirinya secara apa adanya. Pada dimensi evaluasi, konsep diri yang negatif merupakan penilian yang negatif  terhadap diri.  Orang dengan konsep diri negatif, tidak pernah menilai baik diri sendiri.  Baginya,  apapun yang dicapainya dianggap tidak berharga dibandingkan dengan yang dicapai orang lain. Orang semacam ini sangat mungkin mengalami kecemasan karena menghadapi informasi dirinya sendiri yang tidak dapat diterimanya dengan baik. Keadaan sebaliknya akan terjadi pada orang yang memiliki konsep diri positif.Sedangkan dari dimensi pengharapan, seorang dengan konsep diri negatif  terlalu banyak atau bisa juga terlalu sedikit harapan dalam hidupnya, yang sebenarnya tidak sesuai dengan keadaan dirinya.  Oleh karena tidak punya harapan, maka dia tidak mengharapkan suatu kesuksesan apapun, sehingga dia  tidak akan pernah merasa sukses.   Bisa juga sebaliknya,  karena harapannya terlalu  tinggi, maka  apa yang telah dicapainya dianggap masih jauh dari harapannya.  Dengan kata lain, orang dengan konsep diri negatif  mempunyai pengharapan yang tidak realistis.  Sedangkan  orang dengan konsep diri positif akan mempunyai pengharapan dan cita-cita yang realistis sesuai dengan keadaan dirinya. Orang dengan konsep diri positif  akan dapat  bertindak dengan berani dan spontan serta memperlakukan orang lain dengan hangat dan hormat.[14]Jadi,  pada dasarnya  konsep diri yang negatif adalah pemahaman yang tidak tepat tentang dirinya sendiri, pengharapan diri yang tidak realistis dan penilaian yang rendah pada diri sendiri (harga diri yang rendah). Sedangkan  konsep diri yang positif adalah pengetahuan yang luas dan bermacam-macam tentang dirinya sesuai keadaan sebenarnya, pengharapan diri yang realistis dan harga diri yang tinggi.[15]  Indikasi kualitas konsep diri semacam itu juga dikemukakan oleh Burns. Menurutnya, jika seseorang memiliki  konsep diri yang positif berarti ia akan menilai, menghargai, merasa dan menerima keadaan dirinya secara positif.  Sebaliknya, seseorang yang memiliki konsep diri yang negatif berarti ia memiliki evaluasi diri yang negatif, membenci diri, perasaan rendah diri serta tiadanya penghargaan dan   penerimaan terhadap diri sendiri. Dijelaskan lebih lanjut bahwa orang-orang dengan peniliaian diri yang tinggi dan perasaan harga diri yang tinggi umumnya mereka menerima keadaan dirinya.  Sebaliknya mereka yang menilai dirinya secara negatif,  akan mempunyai perasaan harga diri yang kecil, penghargaan diri yang kecil ataupun penerimaan diri yang kecil.[16]Mengenai hal ini, William D. Brooks dan Philip Emmert  juga mengemukakan pendapatnya, seperti yang dikutip oleh Rakhmat.   Menurut mereka,   ciri-ciri  orang yang memiliki konsep diri negatif yaitu: (1) peka atau tidak tahan terhadap kritik dan mudah marah jika dikritik karena dianggap menjatuhkan harga dirinya, (2) sangat responsif terhadap pujian, senang dipuji meskipun dia sering berpura-pura menghindari pujian, (3) bersikap hiperkritis terhadap orang lain, selalu mengeluh, mencela atau meremehkan terhadap apa dan siapapun, juga tidak pandai mengungkapkan penghargaan dan pengakuan terhadap orang lain; (4) cenderung merasa tidak disenangi dan tidak diperhatikan orang lain, menganggap orang lain sebagai musuh, (5) pesimis dan enggan berkompetisi dengan orang lain dalam berprestasi. Selanjutnya dijelaskan pula beberapa ciri  orang yang memiliki konsep diri positif, yaitu: (1) yakin akan kempuannya mengatasi masalah; (2) merasa setara dengan orang lain; (3) menerima pujian (secara wajar) tanpa rasa malu; (4) menyadari bahwa setiap orang mempunyai berbagai perasaan, keinginan dan perilaku yang tidak seluruhnya disetujui oleh masyarakat; serta (5) mampu memperbaiki dirinya karena ia sanggup mengungkapkan aspek-aspek kepribadian yang tidak disenanginya dan berusaha mengubahnya. [17]            Berdasarkan uraian  tersebut, dapat disimpulkan bahwa konsep diri adalah pemahaman, perasaan dan pengharapan seseorang terhadap dirinya sendiri, baik secara  fisik, psikhis maupun sosialnya. Kualitas konsep diri seseorang  dapat bersifat negatif atau positif tergantung bagaimana pandangan seseorang terhadap dirinya sendiri. Konsep diri negatif merupakan pemahaman, penilaian/ perasaan dan pengharapan diri  yang negatif atas diri sendiri. Begitu pula sebaliknya untuk konsep diri yang positifCiri-ciri seseorang yang memiliki konsep diri positif  antara lain ; memahami dan menerima keadaan dirinya, perasaan harga diri yang tinggi, mempunyai kepercayaan diri, menghargai orang lain dan mempunyai harapan yang realistis dalam hidupnya.  Demikian pula jika yang terjadi sebaliknya, menunjukkan adanya indikasi seseorang memiliki  kualitas  konsep diri yang negatif.


R.B. Burns,   Konsep Diri. Teori, Pengukuran, Perkembangan dan Perilaku . terj. Eddy (Jakarta : Arcan, 1993 ), pp. 63-65

Tetty E. Tjipsastra. ”Hubungan antara Konsep Diri, Motivasi Berprestasi dengan Prestasi Belajar Anak-anak Panti Asuhan dan Perbedaannya dari Anak-anak yang Diasuh dalam Keluarga”.  Tesis ( Jakarta: Program Pascasarjana Universitas Indonesia, 1996),  p.p. 33-34.

Elizabeth B. Hurlock,    Personality Development.  (New Delhi : Tata McGraw-Hill Publishing Company Ltd., 1976) , p. 22
Ibid.
Klausmeier,  op. cit. ,  pp. 410-411

Burns, op. cit. ,   p. 66

Ibid.  p. 81

Pudjijogyanti,  loc. cit.
Rakhmat, op. cit. , p.104
Calhoun dan Acocella, op. cit., pp. 72-74

Ibid.  p. 91

Burns,   op. cit.  , p. 72

Rakhmat, op.cit.,  p. 105

Clara R. Pudjijogyanti,  Konsep Diri dalam Pendidikan  ( Jakarta : Arcan, 1995), p. 2

Herbert J. Klausmeier,  Educational Psychology, Fifth Edition.  ( New York : Harper & Row  Publishers, 1985), p. 410

Jalaluddin Rakhmat,  Psikologi Komunikasi  (Bandung : PT Remadja Rosdakarya, 1998),  p. 100

James F. Calhoun and Joan Ross Acocella,  Psikologi Tentang Penyesuaian dan Hubungan Kemanusiaan, Terj. RS. Satmoko ( Semarang : IKIP Semarang Press, 1990), p. 90

34 Tanggapan

  1. Salam kenal dari Ita buat Aristo….sangat bgus artikel anda.Saya mau tanya nich,,konsep diri akademik n non-akademik khn ad yach,bgaimn dngan hrga diri akademik apkah ad referensi yang khusus utk pembahasan trsbut?? kbetuln sy sedang mengerjakan skrpsi n skrpsi sy tntang harga diri akademik. Apabila anda mau mmbantu sy mngucapkn beribu2 bnyak terima kasih….
    Mohon di balas d email yg tlah sy cantumkan…(itayumi@yahoo.com)
    Terima kasih………

  2. Loud clap… scientific banget plus dengan bibliografi-nya
    Ada buku bagus tentang konsep diri yang cocok bagi remaja… dan nggak se-high tulisan di atas.
    Silakan lihat, review Change to be Super di sini

  3. wow…lengkap bgt artikelnya…teori acuannya juga banyak…salut…;)
    nunut copy tulisannya ya… keep writting mas Aristo…matur nuwun…:)

  4. thanks for the article, its very helpful

  5. Lebih dari standing applause bwt artikelnya, keren abiez …!!! kebetulan materi artikelnya berhubungan dengan skripsi yang akan saya buat. Namun saya stuck di acuan buku yang men-support skripsi saya. Mau minta saran mas, buku panduan yang bagus buat skripsi saya. Judulnya “Self Concept Students of English Education Department in Their English Ability”. tolong referensiin ke odyeus_zolla@yahoo.com
    makasih buanyyyak Mas.

    buku self conceptnya Burn saya kira cukup membantu skripsi anda. dah punya kan?. makasih kembali. cepet lulus ya.

  6. artikelnya bagus pak, tapi kalau bisa lebih sistematis lagi, jangan tumpang tindih begitu, yang bacanya kan jadi bingung, hehe..

  7. Halo mas Aristo…

    Salam kenal,,,
    ini chika mahasiswi psikologi Unair..

    Terus terang saya tertarik dgn artikel ini mas,,, terutama ttg konsep diri, karena saya sdg meneliti ttg konsep diri…
    saya bingung mencari teori James F. Calhoun and Joan Ross Acocella, Psikologi Tentang Penyesuaian dan Hubungan Kemanusiaan.

    Kira2 bukunya ada di gramedia atau di toko buku lainnya mas? atw cuma trsedia d perpustakaan tertentu?
    Saya ingin mencari mas…

    Terimakasih sebelumnya…

    Salam kenal kembali. Saya masih liat buku itu ada di gramedia kok. Dulu aku dapatkan buku itu di perpustkaan Fak Psikologi UI. Versi terjemahannya jg banyak di perpus lain kok. Semoga sukses.
    Makasih kujungannya.

    • salam kenal mass…
      aq oby mahasiswa uir (riau) sikologi
      pngen nanya buku yg judul nya psychology of adjustment and human relationhips,,,
      dmana ya mass…
      di gramedia ada gk ya mass…..

  8. Assalamu’alaikum…
    pak terimakasih sekali atas artikelnya..banyak memberikan pencerahan dalam penulisan skripsi saya. saya tinggal disamarinda pak, susah sekali disini mencari refrensi2 mengenai konsep diri. koleksi buku yg ada di gramedia sini tidak lengkap. koleksi buku yg ada di perpustakaan daerah pun hanya ada bukunya pudjijogyanti itu pun sudah tahun 1991. mencari di toko2 buku online pun tidak ada. saya sudah hampir frustasi pak mencari buku2nya. kalo bapak ada refrensi buku2 ttg konsep diri tolong berikan saya infonya ya pak apa judulnya, kemudian bagaimana pembeliannya… saya sangat berharap atas bantuannya pak.terimakasih sebelumnya…^_^
    Wassalamu’alaikum…

    • buku utama yg aku pakai untuk referensi thesisku adalah buku The self concept tulisan RB.Burns. Kalo minat, aku punya. Tp gimana ngirimnya. Tk

      • alhamdulillah… tapi pak kalo bukunya yang dikirim gag mungkin khan pak…pasti nanti bapak juga akan memakainya.. jadi gmn ya pak??

      • Bisa didapat juga “R.B. Burns, Konsep Diri. Teori, Pengukuran, Perkembangan dan ” ada di perpustakaan UBAYA Surabaya. Bagi yang di Surabaya.🙂

      • maaf mas sebelumnya… saya weni mahasiswa psikologi unud. Kebetulan skrg saya lg bikin skripsi ttg konsep diri dan saya sangat perlu dg buku R.B Burns trsebut. Kalo boleh tau apa buku itu masih ada di toko buku atau hanya ada di perpus univ lain?
        trima kasih byk sebelumnya mas dan salut banget sama thesisnya, bagus🙂

      • saya punya bukunya , tapi gimana ngirimnya… hayo

  9. assalamu’alaikum.wr.wb.
    maaf pak… saya ingin bertanya, instrumen apa yang bapak pakai u/ mengukur konsep diri siswa? dan indikator apa saja yang bapak gunakan untuk mengukurnya? serta sumbernya dari mana pak? apakah boleh saya melihat instrumen yang bapak gunakan sebagai refrensi u/ instrumen yang akan saya buat? terimakash sebelumnya pak.. wassa;amu’alaikum..

  10. Sharee: instrumen saya kembangkan sendiri berdasarkan indikator komponen-komponen sesuai beberapa teori konsep diri. buku utama saya “The self concept” tulisan Burn. saya masih nyimpan file instrumennya. kalo minat bisa anda refer. pakai apa?

    • maaf pak jika merepotkan. apakah bisa saya melihat instrumen yang bapak gunakan u/ kemudian dijadikan refrensi dalam instrumen yg akan saya buat pak… karena jujur saya agak bingung dalam membuat instrumennya pak. jika bisa, apakh bisa saya mnt tolng u/ dikirim ke email saya pak… sharee_math05@ymail.com
      terimakash sebelumnya pak…

  11. Bagus juga refrensinya.ne sangat membantu saya dalam menyelesaikan tugas perkuliahan.saya ucapkan banyak terima kasih atas refrensinya.

  12. kebetulan skripsi saya tentang konsep diri akademik..saya sedang mencari buku na pudjijogjanti ternyata bapak pakai sebagai referensi…bisa saya minta tolong bapak dimana mendapatkan referensi tersebut…terima kasih sbelumnya pak…bila da waktu mohon dibalas kan k email saya chita_biru@yahoo.com…maturnuwun

  13. assalamu’alaikum pak aristo…
    saya sedang nulis skripsi tentang konsep diri,,,tapi kesulitan mencari indikator dan instrumen untuk mengukur nya…mohon sharing pak tentang indikator dan instrumen yang bapak pakai di penelitian bapak….
    mohon bantuannya pak..matur nuwun

  14. assalaamu’alaikm wr.wb.
    saya niamy,maaf pak untuk mendapatkan buku konsep diri dalam pendidikan by clara pudjijogyanti, dimana ya?soalnya saya cari di belbuk online d arcan udah g muncul.
    mohon bantuannya ya pak, saya butuh banget buat penelitian saya. terimakasih

  15. assalamu’alaikum
    pak teori siapa yang menjelaskan kaitan antara konsep diri dengan prestasi akademik?
    terus adakah pengaruh konsep diri terhadap perilaku seks pranikah?
    tolong saya diberi referensi buat skripsi
    terima kasih sebelumnya…

  16. ass kak…. saya dinda… lagi nyusun skripsi ni kak berkaitan dengan kosnsep diri dan tugas perkuliahan …. referensinya selain burns ap lagi yg bagus ya kk???
    terus…apa ya yg cocok teorinya kalau membahas hal tersebut??? makasih kak sebelumnya

  17. Thanks for one’s marvelous posting! I genuinely enjoyed reading it, you could be a great author. I will be sure to bookmark your blog and will often come back sometime soon. I want to encourage one to continue your great job, have a nice holiday weekend!

  18. assalamu’alaikum bpk aristo rahadi, saya henny wilda dari aceh. saya tertarik untuk mengetahui lebih lanjut mengenai tesis bapak tentang konsep diri, kebetulan saya sedang menjalani matakuliah skripsi dan judul nya mengenai konsep diri, ada sedikit kesulitan dalam pengambilan landasan teori yang kuat, tentang implementasi konsep diri dalam mata pelajaran fisika, saya mohon bantuan nya ya pak, mudah2an dengan bantuan bpk saya bisa menyelesaikan malasah skripsi saya, boleh saya minta nomor hp yg bisa dihubungi pak ? atas kerendahan hati bapak saya ucapkan banyak terimakasih🙂 .. assalmu’alaikum wr.wb.

  19. Assalamu alaikum bpk Arsito, saya alfiyah dari batam. saya tertarik dengan yg bapak tulis kebetulan saya sedang skripsi. mau tanya saja pak kira-kira bukunya bisa didapatkan dimana ya pak, malkum klo batam sulit cari buku pendidikan. mohon referensinya makasih

  20. terimakasih artikelnya, lengkap banget dan sangat membantu saya.

  21. maaf pak apakah punya referensi tentang konsep diri akademik???

  22. baca bukunya Burn, Self Concept..

  23. Maaf pak . Untuk lebih spesifik ke konsep diri akademik baikny manggunakan buku burns atau pugjijogyanti . Apa saya boleh melihat instrumen bapak ?

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: