Lemah Lembut

Salah satu akhlak yang paling menonjol pada diri Nabi Muhammad SAW  adalah kelemahlembutan pribadinya. Kesaksian orang- orang yang pernah semasa dengan beliau, menggambarkan bahwa beliau tidak pernah berkata kasar, tidak pernah mengumpat, dan tidak pernah berlaku bengis. Bahkan, beliau tidak pernah marah, kecuali terhadap perbuatan yang melanggar kehormatan agama.

Ada beberapa hikmah yang bisa kita peroleh dari perangai lemah-lembut, seperti telah dicontohkan oleh junjungan kita itu, antara lain: 

Pertama, kelemahlembutan bisa membuat kita menjadi pribadi yang indah.  Allah Swt. mengkaruniakan dua keindahan kepada manusia: keindahan fisik, dan keindahan kepribadian. Manusia pada umumnya mudah terpukau oleh keindahan fisik. Namun, keindahan fisik ini akan segera kehilangan kesan bila tingkah-laku dan kata-katanya kasar. Di sinilah, kelemahlembutan menjadi kunci untuk mewujudkan pribadi yang indah.  Rosulullah bersabda:    Sesungguhnya kelemahlembutan tidak melekat pada sebuah pribadi kecuali sebagai perhiasan, dan tidak terlepas darinya kecuali sebagai keaiban. (HR. Muslim)

Kedua, kelemahlembutan bisa membentuk orang-orang dan lingkungan di sekitar kita.

Banyak Sahabat Rasululloh yang memperoleh hidayah (masuk Islam) setelah menyaksikan pribadi Nabi SAW yang lemah-lembut. Salah satunya: Tsummah bin Atsal ra.  Suatu hari, Tsummah yang masih musyrik tertangkap dalam sebuah peperangan melawan kaum Muslimin. Ketika Nabi Saw. menjenguk para tawanan, beliau sempat bertanya kepada Tsummah, Apa yang ingin kau katakan, wahai Tsummah? Tsummah menjawab, Jika kau hendak membunuhku, hai Muhammad, sesungguhnya kau membunuh seseorang yang memiliki pengaruh kuat. Jika mau berbuat baik kepadaku, maka kau berbuat baik kepada orang yang tahu berterima kasih. Dan jika kau ingin harta tebusan, sebutkan saja berapa pun jumlahnya, pasti akan aku bayar. Namun Nabi Saw. tidak memerintahkan untuk membunuh Tsummah, atau meminta tebusan darinya. Beliau  malah mengingatkan para Sahabat  agar merawat Tsummah dan tawanan lainnya dengan baik. Demikianlah, sampai tiga kali kesempatan Nabi Saw. menanyakan hal yang sama kepada Tsummah, ia terus menantang untuk dibunuh saja atau membayar tebusan dalam jumlah yang besar. Setelah para tawanan tersebut dirawat hingga pulih kondisi mereka, alih-alih mereka dibunuh atau dimintai uang tebusan; Nabi Saw. dengan senyum mengembang malah membebaskan mereka tanpa syarat dan menyuruh mereka untuk kembali kepada keluarga masing-masing. Tsummah pun beranjak meninggalkan Nabi Saw dan para Sahabat ra. Namun tak lama berselang, ia kembali menghadap Nabi Saw., mengikrarkan keislamannya. Lalu ia berkata, Sungguh, wahai Rasulullah, sebelum ini tiada orang yang paling saya benci di dunia selain Anda. Tapi sekarang Anda menjadi orang yang paling saya cintai di dunia ini. (HR. Bukhari dan Muslim)

Ketiga, kelemahlembutan adalah pelindung hati dari noda dan penyakit kalbu. Yang perlu disadari, ketika kita berkata kasar dan mengumpat, sebenarnya kita tidak sedang merugikan orang lain. Tapi, terlebih lagi, kita sedang menodai hati kita sendiri, mengotorinya dengan kekasaran, serta membuatnya menjadi keras.

Suatu kali, Nabi Saw. tengah duduk bersama Aisyah ra. Lalu melintaslah sekelompok orang Yahudi di hadapan beliau. Tiba-tiba mereka menyapa Nabi Saw. dengan memelesetkan ungkapan Assalamualaikum menjadi Assamu alaika ”kebinasaan atasmu, hai Muhammad. Mendengar serapah orang-orang Yahudi itu, Aisyah ra. naik pitam dan balik memaki mereka. Namun Nabi Saw. segera menenangkan Aisyah ra. dan memintanya agar tidak mengotori mulut dan hatinya dengan kekasaran dan kebencian. Lalu beliau memberikan alasan: Sesungguhnya Allah Swt. lembut, dan menyukai kelemahlembutan dalam segala hal. (HR. al-Bukhari)

Lemah-lembut dalam tutur kata, lemah-lembut dalam canda, serta lemah-lembut dalam tingkah-laku ternyata merupakan salah satu keteladanan yang paling menonjol dalam diri Rasulullah Saw.

Dan saat ini, dalam keseharian kita, baik dalam lingkup kehidupan sosial yang paling kecil hingga yang paling besar; betapa kita menghajatkan keteladanan ini demi terus menjaga keseimbangan sosial yang kita miliki.
Allah SWT berfirman:  Sesungguhnya telah ada pada diri Rasulullah suri teladan yang baik bagimu; yaitu bagi orang-orang yang mengharap (keridhaan) Allah (Al-Ahzab; 21)

Kelemahlembutan bukan indikasi ketidakberdayaan, tetapi merupakan tanda kemampuan untuk mengendalikan diri. Sebaliknya, kekasaran bukan tanda kekuasaan, namun tanda kerapuhan emosional dan kelemahan kepribadian.

Pada titik singgung ini, Nabi Saw. bersabda: Apabila Allah Swt. menyukai seorang hamba, maka Ia akan mengkaruniainya kelemahlembutan. Dan barangsiapa dari keluargaku yang mengharamkan/menjauhi kelemahlembutan, maka sesungguhnya dia telah menjauhi kebaikan. (HR. Muslim dan Abu Dawud).

Jadi, mengapa kita tak berusaha meneladani kelemahlembutan Rosulullah?  Kita coba yuk!

2 Tanggapan

  1. Lah ya itulah pak, jelas jelas nabi itu sangat lembut hatinya, kenapa ya ada muslim yang meledak ledak seperti kemarin itu ya…
    ilmu agama saya sangatlah sedikit, saat ini saya sedang senang senangnya membaca terjemahan al Quran dan hadist, termasuk biografi Rasulullah.
    Ternyata…ya ampun..Islam itu indah sekali.
    Salam kenal…

  2. […] Salah satu akhlak yang paling menonjol pada diri Nabi Muhammad SAW adalah kelemahlembutan pribadinya. Kesaksian orang- orang yang pernah semasa dengan beliau, menggambarkan bahwa beliau tidak pernah berkata kasar, tidak pernah mengumpat, dan tidak pernah berlaku bengis. Bahkan, beliau tidak pernah marah, kecuali terhadap perbuatan yang melanggar kehormatan agama. Ada beberapa hikmah yang bisa kita peroleh dari […] Nomor Telepon Sekolah Kesetaraan di Jakarta 93088375 – 08161404440 dengan penyelenggara langsung MBA… […]

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: