E-book dan Mahalnya Harga Buku

Kita tahu, buku merupakan salah satu bentuk sumber belajar penting di sekolah.  Sekolah, hampir tak dapat dipisahkan dengan buku. Ini telah terjadi sejak ratusan tahun lalu. Sampai sekarang, bahkan entah sampai kapan. Buku telah menjadi komponen penting di sekolah.  Buku merupakan sumber berbagai  ilmu. Melalui buku, terbukalah pintu gerbang ilmu pengetahuan. Dengan membaca buku, kualitas sumber daya manusia dapat ditingkatkan.
Mengingat fungsi penting buku tersebut, maka pemerintah  harus mampu membuat harga buku terjangkau oleh seluruh kalangan masyarakat.   Ini ternyata bukan perkara mudah. Berbagai kebijakan telah ditetapkan, tetapi harga buku tetap saja mahal.  Saat tahun ajaran baru dimulai seperti sekarang ini, siswa dan orang tua murid tetap saja dibebani biaya pembelian buku yang semakin lama semakin berat. 
Upaya saat ini yang dilakukan pemerintah adalah adanya program buku elektronik atau e-book yang dicanangkan Depdiknas.   Peraturan Menteri Pendidikan Nasional (Permendiknas) No 2/2008 tentang buku, isinya antara lain pemerintah pusat dan daerah dapat membeli hak cipta buku dari pemiliknya. Semua orang berhak menggandakan, mencetak, memfotokopi, mengalihmediakan, dan atau memperdagangkan buku yang hak ciptanya telah dibeli pemerintah.
Dengan kebijakan itu, pemerintah berharap dapat memutus mata rantai perdagangan buku yang dipandang sebagai sumber biaya tinggi, yang menyebabkan harga buku semakin tidak terjangkau.
Upaya itu dimulai dari proses penulisan, pencetakan, hingga penjualan.
Pemerintah membeli hak cipta (copyright) naskah buku dari penulis.
Naskah itu dimasukkan ke situs web. Dari situs web itu, semua orang dapat mengambil dan mencetak, tanpa harus meminta izin dari penulis maupun Depdiknas. Tanpa harus membeli bukunya di toko buku.
Mendiknas telah menyatakan akan membeli 289 hak cipta buku teks pelajaran, mulai dari jenjang sekolah dasar hingga sekolah menengah atas dan kejuruan.  Pemerintah pun telah menganggarkan dana Rp20 miliar selama 2008 untuk program itu.  Peluncuran buku elektronik rencananya akan diresmikan Presiden Susilo Bambang Yudhoyono, 2 Agustus mendatang. Mendiknas berharap dengan buku elektronik itu, sekolah bisa mengunduh melalui internet. Bahkan sekolah pun bisa meminta kepala dinas atau percetakan setempat untuk menggandakan dan menjualnya kepada siswa dengan harga kisaran antara Rp4.452 hingga Rp19.376.
Semula  Depdiknas  menggagas lahirnya buku elektronik agar harga lebih terjangkau oleh siswa.  Sebenarnya,  program ini sangat menjajikan.   Dengan teknologi internet yang membuat rantai produksi semakin pendek, asumsinya harga buku yang sampai kepada konsumen akan menjadi semakin murah dan terjangkau. 
Namun sayang. Faktanya, banyak daerah belum  bisa mengakses internet. Buku murah pun tidak kunjung didapat.   Setelah memasuki tahun ajaran baru, siswa dan guru belum juga mendapatkan buku murah itu. Pada akhirnya, banyak siswa yang membeli buku dari toko buku. Di lapangan, kebijakan itu tidak berjalan mulus. Salah satu penyebabnya adalah akses dan kemampuan siswa, guru, dan sekolah terhadap internet rata-rata masih  rendah.  Selain  tingkat melek internet  masih rendah, juga masih banyak sekolah di Indonesia, apalagi di daerah terpencil, tidak memiliki akses terhadap listrik, apalagi internet.  
Mengingat tulang punggung keberhasilan program itu adalah akses teknologi informasi, sudah seharusnya itu terlebih dahulu dibenahi. Kita semua perlu membuktikan bahwa kehadiran TIK mampu menjadi solusi riil terhadap masalah yang dihadapi oleh masyarakat kita.
 

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: