Lagi-lagi tentang Sinetron

Apakah Anda penggemar atau pengamat sinetron?  Atau, paling tidak Anda pasti pernah menyaksikan tayangan sinetron di televisi.  Sengaja atau hanya kebetulan.  Sebut saja “Bawang Putih Bawang Merah” (RCTI), “Kisah Sedih di Hari Minggu” (RCTI), “Ratapan Anak Tiri” (SCTV), “Inikah Rasanya”, “Tersanjung 6” dan “Kehormatan 2” (Indosiar) dan masih banyak lagi. Semuanya menjual pertengkaran antaranggota keluarga. Bahkan, cerita tersebut terbawa dalam cerita sinetron yang disuguhkan selama Ramadan, hampir di setiap stasiun televisi. Sebut saja “Hikmah” (RCTI), “Adam dan Hawa” (SCTV), dan “Titipan Ilahi” (Indosiar), yang juga tak kalah menjual tentang berbagai keributan antaranggota keluarga karena ketakutan akan kehilangan harta benda.

Menjadi sebuah pertanyaan yang amat dalam di hati, begitu pentingkah harta benda jika dibandingkan dengan kedamaian dan ketenteraman hidup bersama anggota keluarga ?

Tentunya jika sinetron atau film-film televisi merupakan sebuah penggambaran kondisi dan realitas masyarakat yang sesungguhnya, tentu saja itu adalah sebuah mimpi buruk. Bagaimana sebuah penggambaran kehidupan masyarakat yang sudah sangat benar-benar materialistik, hedonisme, dan glamor, apakah memang sudah begitu mengakarnya dalam kehidupan masyarakat.

Bagaimana seorang ibu, baik itu ibu tiri maupun ibu kandung yang mencelakai anaknya serta merusak kebahagiaan perkawinan anaknya untuk tidak kehilangan harta kekayaannya. Bahkan terkadang, adegan yang ditampilkan sangat sadistis sekali, bahkan bisa dikatakan sudah termasuk pada perbuatan kriminal. Karena berbagai tindakan yang dibuat untuk mencelakai, melukai, hingga membunuh, dihalalkan demi tercapai misinya tersebut.

Apalagi terkadang cerita yang disajikan sangat naif sekali, manakala seorang anak-anak yang masih amatlah belia, sudah dianggap sebagai penghalang dalam menggapai cita-cita menguasai harta keluarga. Umumnya, cerita yang ditawarkan adalah berkaitan kisah seorang ibu tiri yang kejam. Sehingga, berbagai tindakan kekerasan baik fisik maupun nonfisik, dirasakan sang anak.

Ditambah lagi apabila si ibu tiri ini memiliki anak kandung. Tak pelak, si anak pun akan memperlakukan saudara tirinya seperti apa yang dilakukan ibunya. Bahkan, kadang apa yang dilakukan sang anak, lebih parah dan sangat tidak sesuai dengan usia yang disandangnya. Sehingga, jika disebutkan perbuatannya sebagai sebuah kenakalan khas dari anak-anak, sudah patut dipertanyakan karena lebih mirip pada perbuatan kriminal.

Begitu juga manakala sang anak sudah menikah dengan seseorang yang merupakan pilihan anak, tapi berasal dari strata sosial yang berbeda, yakni kelas di bawah, orangtua dan keluarga dari pihak mertua akan terus menerornya. Sehingga, sang menantu sudah tidak tahan lagi dan memutuskan berpisah dengan sang anak, tanpa sepeser pun mendapatkan harta gana-gini.

Tentu saja pewajahan sebuah keluarga yang amat sangat menyeramkan. Bagaimana sebuah konsep sosial yang menyatakan keluarga merupakan tempat teraman dan indah, masih bisa dipertahankan dalam benak pemikiran sebagian besar masyarakat Indonesia, jika yang dijejali setiap harinya adalah sinetron-sinetron yang telah memutarbalikkan konsep yang selama ini tumbuh.

Apalagi dengan sinetron yang diputar pada bulan Ramadan, yang memang diperuntukkan berdakwah. Perwujudan tokoh yang masih mengadu antara si baik dan si jahat, di mana si jahat akan menemukan karmanya akibat perbuatannya di akhir kisah atau kalau baik, dia akan menemukan jalan Tuhan. Tapi yang dilakukannya terkadang terlalu berlebihan, jika tidak mau dikatakan terlalu naif.

Tentu saja penggambaran itu telah mengaburkan nilai-nilai yang selama ini ada dalam masyarakat, mengenai konsep keluarga. Pandangan bahwa keluargaku adalah surgaku sepertinya memang sudah tidak berlaku lagi. Sehingga, jika menilik pada kondisi kenyataan yang ditawarkan dalam cerita sinetron, pendapat itu berubah menjadi keluargaku adalah nerakaku.

Lalu ke mana lagi kita selaku manusia akan melakukan sebuah interaksi intens yang indah, jika wajah keluarga sudah penuh dengan konflik. Ke manakah anak-anak kita akan kembali, jika keluarga sudah tidak lagi membuat damai hati mereka, karena merekalah yang selama ini paling banyak menikmati acara yang ditawarkan kotak ajaib bernama televisi.

Meskipun memang tidak dinafikan, dengan berita-berita yang ditawarkan di seputaran liputan kriminal, banyak kejadian kriminal yang terjadi antara anggota keluarga. Tidak hanya kekerasan fisik, tapi juga pemerkosaan dan pencabulan, juga sudah banyak ditawarkan berita-berita.

Artinya, sinetron selayaknya memberikan suatu pendidikan meskipun tidak menggurui penontonnya dengan bahasa-bahasa dan cerita yang tentunya menarik bukan malah meneror penonton dengan wajah yang juga “menyeramkan’. Masih dibutuhkan kisah-kisah “Keluarga Cemara”, “Rumah Masa Depan”, dan “Lorong Waktu”, dan masih banyak lagi lainnya, untuk mengembalikan memori bahwa keluarga tetaplah indah.

Satu Tanggapan

  1. Untuk sinetron jaman sekarang memang mengerikan ya pak….untung istri saya bukan penggemar, jadi anak anak juga “gaptek” untuk urusan sinetron ini. Kemarin saya belain langganan TV kabel, karena acaranya lebih “aman” dan bisa di password untuk jenis tontonan tertentu. Saya mikir lah kalo orang orang yang keluarganya tidak bisa menyewa, atau hiburan satu satunya adalah televisi, wadduuuuhhh bagaimana nanti kualitas anak anak indonesia ini ya…
    Herannya pemerintah kok tidak sadar atau paham bahwa masalah ini juga penting.
    Saya malah sempat berpikir bahwa produser produser sinetron itu adalah agen agen asing yang ingin merusak karakter bangsa kita…wah ini gara gara kebanyakan nonton james bond kekekeke

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: