Sekolah dan Misi Pendidikan

Pendidikan merupakan tolok ukur yang paling menentukan maju tidaknya suatu bangsa dalam menggapai masa depannya. Pendidikan menjadi sebuah objek garapan yang paling krusial dibanding bidang lainnya.  Sekolah, sebagai bentuk pelembagaan pendidikan dan lembaga transformasi ilmu pengetahuan, menjadi kuat peranannya dalam membentuk “manusia baru” yang siap menghadapi tantangan zamannya. Berbagai usaha akan dilakukan pemerintah dan institusi pendidikan dalam memberdayakan sekolah agar betul-betul menjadi lembaga transformasi ilmu pengetahuan yang kuat, andal, dan prospektif.

Di negeri ini pendidikan ternyata belum mampu membentuk “manusia baru” yang kita cita-citakan. Sekolah, bahkan (maaf sinis) bisa dikatakan sebagai candu yang mengungkung kreativitas berpikir anak-didiknya. Berbagai usaha yang dilakukan lembaga pendidikan, ternyata tak kunjung membuahkan hasil yang bagus dan maksimal, namun malah menjadi bumerang bagi para siswa. Bahkan, akhir-akhir ini diduga usaha-usaha yang dilakukan dunia pendidikan telah menjadi sebuah komoditas yang dimanfaatkan untuk mencari keuntungan sebesar-besarnya.  Momentum tahun ajaran baru biasanya dijadikan momentum “emas” untuk mencari keuntungan besar. Buku-buku pelajaran dan buku panduan yang biasanya diperdagangkan penerbit bekerja sama dengan lembaga pendidikan menjadi semacam proyek tahunan yang menjanjikan keuntungan.   Belum lagi berbagai peralatan sekolah yang mahal bagi para siswa. 

Sinyalemen ini tidaklah bermaksud berburuk sangka (su’udzon) kepada lembaga pendidikan. Sama sekali tidak. Karena lembaga pendidikan tetap menjadi pilihan utama kita dalam mencerdaskan bangsa ini ke depan. Namun, dengan praktik-praktik yang berkembang selama ini, dengan biaya yang selangit, rasanya tidaklah salah kalau kita mengkritisi para pelaku dunia pendidikan untuk introspeksi diri dan membenahi perilakunya.

Bagi orang kaya, biaya pendidikan selangit mungkin tidak masalah, namun bagi orang miskin mungkin itu adalah sebuah pencekalan agar mereka tidak diberi kesempatan belajar layaknya orang kaya. Maka tidak salah kalau seorang Mark Twain pernah berkomentar, “Pendidikan memang bukan pembantaian yang langsung bikin kita mati, tapi ia jauh lebih mematikan dalam jangka panjang.”

Pernyataan yang dilontarkan Mark Twain tersebut mengindikasikan bahwa dunia pendidikan seakan bukannya menciptakan sosok kreatif masa depan, namun pendidikan malah membungkam kreativitas berpikir seseorang yang tidak hanya dalam jangka pendek, bahkan dalam jangka panjang. Pendidikan cuma buang-buang waktu saja tanpa memberikan ide-ide cerdas untuk masa depan. 

Apa yang terjadi sekarang ini, sudah saatnya kita mengembalikan lembaga pendidikan sebagai lembaga transformasi ilmu pengetahuan. Sekolah tidak boleh dikungkung oleh kurikulum yang terikat dengan satu cara pandang yang mengarahkan peserta didik kepada cara berpikir yang pragmatis. 

Sosok Plato, mungkin bisa kita jadikan refleksi, karena pada zamannya materi-materi pendidikan yang dibahas mencakup semua permasalahan manusia, termasuk urusan-urusan moralitas yang abstrak. Jika Plato dulu mampu mencerahkan masyarakat dengan kearifan kemanusiaan yang mendalam, sekarang menjadi alat penguasa untuk mendikte sejumlah teori yang hanya memihak kepentingannya, yakni demi kemapanan rezim.  Maka  tidak salah kalau kaum Marxis menentang keras model pendidikan formal, walau pun secara sosiologis kita tetap mengakuinya sebagai pola transformasi ilmu pengetahuan.

Sementara itu, bagi kita yang kurang mampu menjangkau biaya pendidikan sekarang ini, sudah saatnya kita memantapkan diri kita untuk keluar dari kungkungan formalisme pendidikan, dan menjadi manusia baru yang belajar dengan kehidupan yang nyata secara nonformal. Uang bukanlah segalanya, namun kemandirian dan keberanianlah yang kita butuhkan untuk melawan arus pemikiran yang ada sekarang ini. 

Agaknya, menarik bila kita mencermati apa yang dikatakan Steven W Vannoy (1994), “Tanpa uang pun, saya dapat memberi mereka anugerah yang akan mengubah hidup mereka, anugerah yang dapat membantu mereka menciptakan kehidupan yang jauh lebih kaya dan sempurna daripada yang dapat dibeli dengan uang.”  Pemikiran Steven Vannoy akan memberikan motivasi kita agar pendidikan janganlah hanya diartikan dengan belajar di sekolah an sich, namun di mana pun kita dapat menemukannya tanpa terlalu banyak mengeluarkan uang.

Biarlah generasi tua menghabiskan masa hidupnya dengan apa yang dimilikinya (walaupun mengecewakan). Ke depan, mari kita mencetak generasi muda yang dinamis, progresif, prospektif, dan moralis. Sosok manusia baru yang menjanjikan adalah sosok dalam dirinya terpadu utuh moralitas dalam bimbingan akal sehat dan kekuatan badan.  Moralitas harus segera ditanamkan sedini mungkin kepada para peserta didik dan jangan sampai disepelekan, karena mengabaikan Tuhan dalam proses pendidikan anak-anak merupakan kesalahan mahafatal bagi masa depan anak dan peradaban.  Janganlah kita menjadi bangsa yang kropos yang sering meletakkan kemajuan di atas pengertian yang salah. Dengan demikian warganya memandang kesuksesan hidup identik dengan tercapainya tingkat pendapatan setinggi mungkin, pekerjaan ringan, diperoleh tanpa susah payah, dan sebagainya.

Namun, bangsa yang maju adalah bangsa yang dengan kekuatan dan kemandiriaanya akan berusaha sekuat tenaga dengan tetap berpegang pada maunah yang kuasa. Kita berharap semoga pendidikan betul-betul berkomitmen membentuk sosok kreatif masa depan, bukan sosok yang mendistorsi masa depan.

Satu Tanggapan

  1. (Dikutip dari: Harian RADAR Banjarmasin, Jum’at 2 Mei 2008)

    Strategi Pendidikan Milenium III
    (Tengkulak Ilmu: Rabunnya Intelektual Ilmiah)
    Oleh: Qinimain Zain

    FEELING IS BELIEVING. MANUSIA adalah binatang yang menggunakan peralatan. Tanpa peralatan, ia bukan apa-apa. Dengan peralatan, ia adalah segala-galanya (Thomas Carlyle).

    DALAM momentum peringatan Hari Pendidikan Nasional, 2 Mei 2008, sangat tepat berbenah diri. Banyak kalangan menilai betapa rendahnya kualitas sumber daya manusia Indonesia dibanding bangsa lain. Ini ditandai dengan produktivitas kerja rendah sehingga ekonomi lemah, karena tidak efesien, efektif dan produktif dalam mengelola sumber daya alam yang meski begitu melimpah.

    Lalu, mengapa kualitas sumber daya manusia Indonesia rendah?

    KAPITAL manusia adalah kekayaan sebuah bangsa dan negara, sama halnya seperti pabrik, perumahan, mesin-mesin, dan modal fisik lainnya. Diakui dimensi teknologi, strategi, aliansi global dan inovasi merupakan komponen penting yang akan mempengaruhi keuggulan kompetitif pada masa depan. Namun demikian, komponen itu masih bergantung pada kembampuan manusia (Gary S. Becker).

    Dalam ilmu matematika ada acuan dasar sederhana penilaian apa pun, yaitu posisi dan perubahan. Jadi, jika bicara kemajuan pendidikan kualitas sumber daya manusia Indonesia adalah berkaitan di mana posisinya dan seberapa besar perubahannya dibanding bangsa lain di bidangnya.

    Berkaitan dengan perubahan, ada dua cara posisi untuk unggul yaitu bertahan dengan keunggulan lokal dengan fungsi terbatas atau menyerang dengan keunggulan global dengan fungsi luas. Misal, menjadi ahli orang hutan Kalimantan yang endemik, atau menjadi ahli kera seluruh dunia. Jelas, sangat sulit menjadi unggul satu keahlian untuk global diakui secara global, sedang unggul keahlian untuk lokal diakui secara global pun – seperti tentang orang hutan Kalimantan (apalagi tentang gorila), didahului orang (bangsa) lain. Ini terjadi disemua bidang ilmu. Mengapa?

    Indonesia (juga negara terkebelakang lain) memang negara yang lebih kemudian merdeka dan berkembang, sehingga kemajuan pendidikan pun belakangan. Umumnya, keunggulan (sekolah) pendidikan di Indonesia hanya mengandalkan keunggulan lisensi, bukan produk inovasi sendiri. Contoh, sekolah (dan universitas) yang dianggap unggul di Kalimantan bila pengajarnya berasal menimba ilmu di sekolah (dan universitas) unggul di pulau Jawa (atau luar negeri). Sedang di Jawa, pengajarnya berasal menimba ilmu di luar negeri. Jika demikian, pendidikan (ilmu pengetahuan dan teknologi) Indonesia atau di daerah tidak akan pernah lebih unggul di banding pusat atau luar negeri. (Ada beberapa sekolah atau universitas yang membanggakan pengajarnya lulusan universitas bergengsi atau menonjolkan studi pustaka di Jawa dan luar negeri. Artinya, ini sekadar tengkulak atau makelar (broker) ilmu dan teknologi). Dan memang, selalu, beban lebih berat bagi apa dan siapa pun yang terkebelakang karena harus melebihi kecepatan lepas (velocity of escape), kemampuan kemajuan yang unggul di depan untuk menang. Perlu kemauan keras, kerja keras dan strategi tepat mengingat banyak hal terbatas.

    WALAUPUN Anda berada pada jalan yang benar, maka akan tergilas jika Anda cuma duduk di sana (Will Roger).

    Lalu, mengapa otak orang lain unggul? Ada contoh menarik, Sabtu 30 Juli 2005 lalu, Michael Brown dari California Institute of Technology mengumumkan “Keluarkan pena. Bersiaplah menulis ulang buku teks!”. Astronom Amerika Serikat ini, mengklaim menemukan planet ke-10 dalam sistem tata surya yang diberi nama 2003-UB313, planet terjauh dari matahari, berdiameter 3.000 kilometer atau satu setengah kali dari Pluto. Planet ini pertama kali terlihat lewat teleskop Samuel Oschin di Observatorium Polmar dan teleskop 8m Gemini di Mauna Kea pada 21 Oktober 2003, kemudian tak nampak hingga 8 Januari 2005, 15 bulan kemudian.

    Sebuah penemuan kemajuan ilmu pengetahuan luar biasa, yang sebenarnya biasa saja dan mungkin terjadi di Indonesia andai ilmuwannya memiliki alat teleskop serupa. Tanpa teleskop itu, ketika memandang langit mata kita rabun, sehingga yang terlihat hanya langit malam dengan kerlip bintang semata. Sejarah mencatat, ilmuwan penemu besar sering ada hubungan dengan kemampuannya merancang atau mencipta alat penelitian sendiri. Tycho Brahe membuat sekstan (busur derajat) pengamatan benda langit, Johannes Kepler dengan bola langit sebagai peta astronomi, Isaac Newton membuat teleskop refleksi pertama yang menjadi acuan teleskop sekarang, atau Robert Hooke merancang mikroskop sendiri. Dan, alat teknologi (hardware) pengamatan berjasa mendapatkan ilmu pengetahuan ini disebut radas, pasangan alat penelitian (software) pengetahuan sistematis disebut teori.

    ILMUWAN kuno kadang menekankan pentingnya seorang ilmuwan membuat alat penelitian sendiri. Merancang dan membuat sesuatu alat adalah sebuah cabang keahlian ilmiah (Peter B. Medawar).

    Lalu, sampai di manakah perkembangan ilmu pengetahuan (dan teknologi) di negara lain? Untuk (ilmu) pengetahuan sosial, di milenium ketiga kesejajaran dan keterpaduannya dengan ilmu pengetahuan alam, hangat di berbagai belahan dunia. Di ujung tahun 2007 lalu, Gerhard Ertl, pemenang Nobel Kimia tahun itu, kembali mengemukakan bahwa ilmuwan harus menerobos batasan disiplin ilmu untuk menemukan pemecahan beberapa pertanyaan tantangan besar belum terjawab bagi ilmu pengetahuan yaitu ilmu pengetahuan menyatu seiring waktu. Banyak ilmuwan peserta forum bergengsi itu menjelaskan tugas penting ke depan yang harus diselesaikan berkenaan masalah batas, batasan atau titik temu pada dua atau lebih disiplin ilmu. Kemudian sejalan itu, tanggal 28 – 30 Maret 2008 lalu, di Universitas Warwick, Warwick, Inggris, berlangsung British Sociological Association (BSA) Annual Conference 2008, dengan tema Social Worlds, Natural Worlds, mengangkat pula debat perseteruan terkini yaitu batas, hubungan dan paduan (ilmu) pengetahuan sosial dan ilmu pengetahuan alam dalam pengembangan teori (ilmu) sosial dan penelitian empiris, mencoba menjawab pertanyaan kompleks yang selalu mengemuka di abad ke 21 dalam memahami umat manusia. Berikutnya, tanggal 2-5 Desember 2008 nanti, akan digelar The Annual Conference of The Australian Sociological Association (TASA) 2008, di Universitas Melbourne dengan tema Re-imagining Sociology.

    Ini peluang momentum besar (yang hanya satu kali seumur dunia) bagi siapa pun, baik universitas atau bangsa Indonesia untuk berlomba memecahkan masalah membuktikan kemajuan, keunggulan dan kehormatan sumber daya manusianya di milenium ketiga ini. (Dari pengalaman, pandangan rendah bangsa lain terhadap Indonesia (dan pribadi), tergantung kualitas kita. Kenyataannya, ilmuwan besar di universitas besar di benua Eropa, Amerika, Afrika, Asia dan Australia pun, dengan rendah hati mau belajar (paradigma Total Qinimain Zain: The (R)Evolution of Social Science: The New Paradigm Scientific System of Science dengan saya) selama apa yang kita miliki lebih unggul dari mereka.

    SUMBER daya manusia harus didefinisikan bukan dengan apa yang sumber daya manusia lakukan, tetapi dengan apa yang sumber daya manusia hasilkan (David Ulrich).

    Akhirnya, di manakah tempat pendidikan terbaik belajar untuk unggul secara lokal dan global di banding bangsa lain? Di University of Reality di kehidupan sekitar! Dengan syarat (mencipta dan) memiliki alat teknologi (hardware) atau alat teori (software) hebat sendiri. Jika tidak, semua mata intelektual ilmiah rabun, karena belajar dan memahami kehidupan semesta dengan otak telanjang adalah sulit bahkan mustahil, sama halnya mencoba mengamati bintang di langit dan bakteri di tanah dengan mata telanjang tanpa teleskop dan mikroskop. Sekarang rebut peluang (terutama untuk akademisi), bangsa Indonesia dan dunia krisis kini membutuhkan Galileo Galilei, Francis Bacon, dan Rene Descartes muda. Jika tidak, akan hanya menjadi tengkulak ilmu, dan harapan memiliki (serta menjadi) sumberdaya manusia berkualitas lebih unggul daripada bangsa lain hanyalah mimpi. Selamanya.

    BODOH betapa pun seseorang akan mampu memandang kritis terhadap apa saja, asal memiliki peralatan sesuai tahapan pemahaman itu (Paulo Freire)

    BAGAIMANA strategi Anda?

    *) Qinimain Zain – Scientist & Strategist, tinggal di Banjarbaru, Kalsel, email: tqz_strategist@yahoo.co.id (www.scientist-strategist.blogspot.com).

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: