Antara Minta Maaf dan Memaafkan

Pernahkan Anda menghitung, berapa banyak kita berbuat salah terhadap orang lain setiap hari?. Berapa banyak orang yang tersinggung dan sakit hati karena perkataan, perbuatan atau sikap kita?  Jujur, kita pasti pernah berbuat salah entah kepada teman, atasan, anak buah, tetangga, saudara,  orangtua kita, atau bahkan kepada orang yang belum kita kenal sekalipun.

Sesungguhnya tiada hari kita tidak berbuat salah dan menyinggung perasaan orang lain. Sengaja atau tidak, sadar atau tidak, mengakui atau tidak.  Namanya juga manusia.   Terus ?  Yah, untung ada kata maaf.

Seandainya kesalahan  ibarat racun,  maka penawarnya adalah maaf.  Kata maaf, merupakan salah satu perkara  penting dalam menyikapi  kesalahan kita terhadap orang lain.  Maaf merupakan kata magis, apalagi diucapkan dengan sepenuh hati.

Bayangkan, andaikan dalam komunikasi sosial tak ada kata maaf (baik memberi atau meminta), betapa pengap dan tak nyaman suasana hubungan sosial di antara kita.  Orang yang enggan atau bahkan tidak pernah meminta maaf kepada orang lain,  jiwanya tidak sehat. Orang yang memaafkan secara tulus sesungguhnya akan menyehatkan dirinya sendiri. Dengan memaafkan, berarti dia mampu menerima kenyataan pahit, kemudian berusaha melupakan, dan seterusnya membuka lembaran baru yang bersih.  Dengan demikian, memaafkan, melupakan, dan membangun lembaran baru di hari esok adalah sumber kesehatan seseorang, masyarakat dan bangsa.

Di sisi lain, orang yang enggan dan pelit memberi maaf, jiwanya kurang sehat, karena lama-kelamaan endapan kesal, kecewa, dan benci kepada seseorang akan terasa semakin berat dan menjadi beban pikiran serta perasaan.

Tindakan memaafkan juga meringankan beban psikologis yang akan menyehatkan. Tentu saja, memaafkan yang sehat ada kalanya mesti disertai hukuman dan kemarahan sebagai pendidikan bagi mereka yang berbuat salah. Pernahkan Anda merenung  apakah kita ini mampu memaafkan terhadap sesamanya ataukah lebih senang balas dendam?

Memaafkan itu bukan aib. Bukan pula menunjukkan pribadi yang lemah. Sebaliknya, hanya mereka yang lapang, berjiwa besar, dan memiliki rasa percaya diri serta menjalani hidup dengan ikhlas yang akan bisa memaafkan orang lain.

Begitu pentingnya kata maaf, maka di masyarakat kita punya begitu banyak ungkapan untuk menyatakan permintaan maaf. Apa sih sulitnya  kita mengucapan ini secara tulus:

Maaf Pak….!

Eh sori lho …!

Punten teh..!

Aduh, nyuwun sewu Bu…!

Maafin gue ya…!

Ojo kurang pangapuramu yo Le….!

Mbah, sedoyo lepat nyuwun pangapunten nggih..!

Keng wayah  nyuwun agunging samudro pangaksami…!!

(Halah, Jowo banget. Kayak sungkeman lebaran aja).   Kalo minta maaf pake budaya Anda kayak gimana seh?

Satu lagi, menurut Anda mana yang lebih berat Anda lakukan: meminta maaf atau memberi maaf ?

 

 

Satu Tanggapan

  1. Kalau urang banjar cara mengucapkan maaf biasa saja: Maaflah.., Ampun maaf ulun tasalah.., Alhamdulillah, bagi saya tak berat mengucapkan maaf, apalagi memberi maaf. He.he..

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: