Antara Karier dan Keluarga (No Choice?).

Setahun lalu, saya dilantik menjadi pejabat rendahan pada kantor saya di Jakarta.  Empat hari setelah pelantikan,  saya dipanggil menghadap pimpinan.  Beliau bilang,  ada masalah dengan pelantikan saya. Masalah apa persisnya,  saya kurang tahu.  Mungkin itu urusan pimpinan, dan saya tak perlu (harus) tahu.  Solusi pimpinan, saya akan dimutasi (atau apa namanya) ke  Semarang.  Waktu itu,  saya mencoba menyampaikan keberatan.   Alasannya, saya  tak bisa  bekerja jauh dari keluarga.  Kalau harus pindahan sekeluarga, terbayang repotnya. Kalau harus bolak balik seminggu atau sebulan sekali,  pemborosan pikirku.  Boros  biaya dan tenaga.   Padahal,   ketika  anak-anak makin memerlukan biaya saat ini,  istri saya minta berhemat-hemat.   Saya sendiri juga  ingin  menghemat tenaga, di saat usia makin tua.  Hitung-hitungan  saya, hidup dengan dua dapur betapa mahalnya. Bla bla bla…

Saya merasa alasan keberatan saya itu cukup manjur dan  bisa  dimengerti pimpinan. Buktinya, setelah setahun pelantikan itu, mutasi tak terjadi.  Saya masih bisa berkantor di Jakarta. Dan hidup satu dapur dengan keluarga.  Istri saya senang. Apalagi anak-anak saya, yang belum mengerti apa arti jabatan dan apa itu tugas negara.  Saat itu saya makin merasakan betapa indahnya tinggal serumah bersama anak istri. Saya lupakan pelantikan itu.      

Setelah setahun berlalu, ternyata ceritanya berlanjut.   Beberapa  minggu lalu, saya kembali dipanggil bos.  Maksudnya sama,  mengulang tahun lalu  meminta (menugaskan) saya ke Semarang. Agak kaget sebenarnya.  Kali ini saya tak punya banyak kesempatan berpikir untuk merangkai dan menyampaikan alasan. Pembicaraan berlangsung singkat. Seandainya diberi waktu lebih lamapun,  alasan yang saya sampaikan toh tak akan jauh beda dengan sebelumnya.  Singkatnya, beberapa hari lalu  saya dilantik (lagi). Tapi kali ini untuk posisi yang berbeda dengan pelantikan tahun lalu. Mutasi ke  Semarang. No choice.

Hari-hari ini saya merenung dan mawas diri. Berhitung dan menimbang. Menyusun sikap trus  mencari jalan. Berdo’a. Mencoba menemukan  hikmah di balik semua ini. Menasihati diri sendiri. Lalu mencoba memberi pengertian kepada anak istri. Sulit memang.  Istri saya mulai mengerti. Paling tidak lahirnya, entah batinnya.  Sementara, anak-anak tetap belum juga mengerti apa sebenarnya arti jabatan dan tugas negara.  

Berat dan gamang  saya siapkan langkah menuju ke sana.  Melaksanakan “tugas negara”,  mengamankan kebijakan.   No choice.

Sekali lagi saya belajar, bahwa tak semua terjadi sesuai keinginan kita. Tak satupun manusia yang mampu mewujudkan semua  rencana.  Yang pasti, semua hanya terjadi jika dan hanya jika Tuhan menghendakinya. Berharap yang terbaik, dan bersiap yang terburuk. Yang ini baru choice.

3 Tanggapan

  1. Wah, kasian sekali. Mempunyai pimpinan yang tidak mau mendengar saran stafnya atau curhat stafnya. Andai seorang pemimpin memimpin tidak sesuai bidangnya maka ia seperti ka…ek yang masa bodoh mendengarkan stafnya. Instansi anda sedang dipimpin oleh pimpinan yang tidak memanusiakan manusia, tapi memesinkan manusia (Tuhan saja sangat murah hati, memberikan pilihan bagi makhluknya). So, anggap saja dia sebagai mesin.Sabarlah anda, semoga pimpinan anda secepatnya diberi teguran dari Allah dan cepat-cepat dimutasikan ke instansi lain. Amin

  2. Hidup memerlukan pengorbanan n hidup adalah pilihan begitu juga karier. Kita maunya tentu saja semua berjalan seiring, seirama. Tetapi sering kita dihadapkan pada pilihan – pilihan. Konsekwensi dari yang didapat tentu saja pengorbanan. Walau saya sendiri kadang gamang, ngurusin orang lain kadang anak sendiri terlupakan. Jadi yang penting menurut saya pengertian dari keluarga entah itu istri, anak atau yang lainnya sebagai konsekwensi bagian dari PNS sanggup ditempatkan dimanapun dibutuhkan, he…he…he Selamat deh.

  3. asih, tanks advisnya

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: