Pilih hard worker atau smart worker ?

#Scarffaces sukun supplier

“Saya tidak mau jadi hard worker,  tapi  smart worker”, kata dokter Diana Abbas Thalib.   Calon isteri Ketua MPR Hidayat Nurwahid itu kini baru berusia 42 tahun. Menurutnya, bekerja tak harus ngotot, yang lebih penting harus smart, pake strategi. Saya tak tahu, apakah hal itu karena beliau kini merasa sudah tua, atau memang itu prinsipnya sejak masih muda. 

Tak salah  kita menjadi seorang pekerja keras. Memang harus begitu. Tapi kalo bekerja keras itu bermakna kerja otot, ya nanti dulu.  Bagi yang masih berotot kawat tulang besi, bekerja keras membanting tulang tentu hayo aja.   Tapi  bagaimana kalo sekarang otot dan tulang  kita sudah tak keras lagi?  Bagi yang sudah memasuki usia  oversek(et), otot tak bisa jadi andalan lagi dalam bekerja. Makin berumur, orang makin perlu  berhemat tenaga.  Meskipun saat muda dulu kita punya otot kawat tulang besi, namun kawat dan besi itu lama-lama pasti karatan.  Apalagi kalo jarang dipake dan dirawat. Nggak perlulah kita  coba-coba melawan usia. Kurang kerjaan itu namanya. Jangan sampai kita diledek nafsu besar tenaga kurang.  Maaf ya, ini nggak ada hubungannya sama sekali dengan topik kawin lagi.  Sueerrrrrr. Ini soal prinsip bekerja. Soal usia  yang makin tua. Soal hemat tenaga dalam bekerja. Soal okol dan akal. Kata  sebuah iklan minuman berenergi: jangan bekerja  pake otot, pake otak dong!.   

Intinya begini lho.  Kekuatan otot kita makin menurun. Tapi itu tak harus  menghambat produktifitas kerja.   Karena kekuatan tenaga  kita makin menurun untuk bekerja keras,  maka idealnya harus diimbangi dengan meningkatnya kemampuan  bekerja cerdas.  Jadilah smart woker, bukan hard worker, seperti kata dokter Diana itu.  Dengan keluaran tenaga yang lebih kecil, seorang smart worker akan menghasilkan produk yang sama (atau lebih besar) daripada hard worker.  Masalahnya adalah, ada orang terpaksa (hanya mampu) bekerja keras, bukan bekerja cerdas. Bagi sebagaian orang, bekerja dengan otak lebih berat daripada bekerja dengan otot.  Benar begitu? Ya tergantung Anda. Bagi seorang buruh panggul, memang lebih suka  diminta ngangkat  beras sekarung ketimbang  disuruh mikir solusi krisis pangan.  Apalagi selama panggulnya masih kekar. Smart worker dan hard worker memang bukan soal lebih mudah dan lebih susah, tapi soal tuntutan, kadang soal keterpaksaan.

Jadi, kapan kita harus mulai berubah dari  hard worker jadi smart worker? Ya sekarang aja. Kalo bisa. Ngapain nunggu sampai tua. Bukankah hari  ini kita memang sudah lebih tua dari kemarin? So, let’s be a smart woker, meskipun kita masih merasa kuat.

4 Tanggapan

  1. yups..
    betul..
    gak perlu nunggu2.. segera aja jd smart worker..

    caranya??
    jadi pebisnis kali yah..
    pebisnis yg mengatur para hardworker..😉

  2. kalau disuruh milih, saya pilih SMART WORKER yang hard worker dong !!

  3. pak..coba diterawang blog saya, saya termasuk hard worker atau smart worker ?! kayaknya “atau” deh🙂

  4. mari kita mulai dari diri sendiri
    gimana setuju ?

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: