Ujian Nasional, Apa Sih yang Diuji?

Sebentar lagi,  Ujian Nasional (UN)  di SD, SMP dan SMA akan diselenggarakan. Coba lihat,  apa yang dilakukan sekolah ketika mempersiapkan UN seperti sekarang ini. Betul. Sekolah mengadakan bimbingan khusus bagi siswa kelas III untuk menghadapi  UN. Apa yang diberikan  ke siswa?  Jam belajar untuk mata pelajaran yang akan diUNkan ditambah, kegiatan lain  dikurangi. Siswa digeber untuk berlatih menjawab soal-soal lalu menghapal jawabannya.  Harapannya, siswa akan ingat jawaban  ketika soal yang mirip (syukur persis)  keluar dalam UN. Sekolah mirip  lembaga bimbingan tes. 
Upaya ini mungkin  ada manfaatnya, jika tujuannya memang sekedar mendongkrak nilai UN.  Namun, bisa jadi justru kontra produktif: membuat siswa menjadi jenuh dan panik menjelang ujian. Apa boleh buat.
Melihat kenyataan itu, kita tentu tak bisa 100% gegabah menyalahkan sekolah. Sistem evaluasi belajar yang dipakai secara nasional memang masih menuntut demikian.  Prestasi belajar anak, hanya diukur melalui kemampuannya menjawab soal-soal ujian. Sekolah dianggap berprestasi jika siswanya  memperoleh nilai UN yang memenuhi syarat  kelulusan.   Mungkin para guru berpikir,  untuk apa repot-repot berteori dan berinovasi, jika ternyata banyak siswanya yang gagal dalam UN.  Sebuah pemikiran yang “logis” bukan?
Kalo kita jujur,  UN memang belum mampu menjadi instrumen handal  untuk mengukur kompetensi riil hasil belajar siswa secara utuh. Kemampuan berpikir logis, keterampilan berkomunikasi, pemecahkan masalah, kemandirian belajar anak misalnya, belum mampu diukur melalui sistem UN  yang saat ini diterapkan. Apalagi soal etika, kedisipinan, kejujuran, integritas, kreatifitas dan semacamnya, belum terukur melalui sistem evaluasi pendidikan di sekolah kita.  Padahal kita tahu, aspek-aspek itu tak kalah penting dibanding dengan kemampuan siswa menghapal jawaban soal.
Sebagai suatu  evaluasi sumatif, mestinya UN bisa mengukur hasil akhir yang dicapai siswa setelah 3 tahun mengikuti proses belajar.  Ukuran  keberhasilan belajar siswa, telah dirumuskan dalam kurikulum, yaitu berupa standart kompetensi, kompetensi dasar dan sejumlah indikator. Rumusan tujuan dalam kurikulum tersebut, sebenarnya sudah cukup lengkap, utuh dan “sempurna”.  Namun, jika kita bandingkan antara rumusan tujuan dengan alat ukurnya, kita akan melihat kesenjangan.   Rupanya para ahli dan praktisi pendidikan baru mahir dalam merumuskan tujuan pembelajaran, namun masih belum mampu dalam membuat alat ukur serta menerapkan evaluasinya.  Hasil belajar yang diukur, masih cenderung terfokus pada aspek kognitif saja.  Belum menyeluruh sesuai tuntutan standart kompetensi yang dirumuskan dalam kurikulum itu.  Kok bisa begitu? Jawabannya kompleks, banyak penyebabnya.  Kalo dibahas,  bisa debatable. Bahkan bisa melebar ke hal-hal yang sifatnya non-edukatif.  Okelah, lain kali saja kita bicara itu.  Sekarang saya  hanya  ingin uneg2   sekitar kegiatan pembelajaran  di sekolah. Masih tetap ada hubungannya dengan UN, tentu. 
Tampaknya,  masih banyak guru (apalagi di daerah-daerah) yang  menjalankan profesi pendidiknya  dengan paradigma pembelajaran konvensional (saya tidak mengatakan salah).
Pada umumnya, kegiatan pembelajaran yang terjadi di sekolah kita masih berkutat dan menekankan diri pada penguasaan materi pelajaran (content mastery), bukan penguasaan konsep (conceptual mastery). Para siswa kita juga jarang (bahkan tak pernah)  dibiasakan belajar dengan pola berpikir tingkat tinggi (high order thinking). Lebih parah lagi, kita tidak pernah menanamkan kepada anak learning  how to learn (belajar untuk mempelajari sesuatu). Karena itu wajar bila anak-anak kita tidak berdaya ketika diminta berpikir untuk memecahkah masalah  aktual (meskipun jago menjawab soal).  Konsep “belajar” (learning) telah dipersempit  menjadi kegiatan “penguasaan materi” (content mastery), atau lebih sempit lagi menghapal  materi pelajaran.
Pada hakekatnya, mengajar adalah upaya menciptakan kondisi agar terjadi kegiatan belajar (pada orang lain). Tugas utama guru adalah membuat siswanya belajar, bukan sekedar menyajikan materi pelajaran.  Jadi, ukuran keberhasilan guru adalah jika guru bisa menciptakan kegiatan belajar pada siswaya.  Meskipun guru telah berbusa-busa mengajar di depan kelas, tapi jika belum berhasil membuat siswanya belajar, guru itu belumlah berhasil.  Guru yang berhasil harus bisa membuat sisnya belajar.   Kegiatan belajar seseorang, harus dilakukan sendiri oleh learner. Guru tak dapat mewakili muridnya untuk belajar.  Yang bisa dilakukan guru adalah membimbing siswa agar mereka belajar.  Guru harus bisa  membuat siswa  belajar bagaimana belajar (learning how to learn). 
Learning how to learn memayungi sejumlah besar konsekuensi ketrampilan berpikir anak. Anak yang tahu cara belajar akan tahu apa yang harus dilakukan ketika sebuah fenomena menimbulkan pertanyaan. Ketika seorang anak  bertanya,”di nana ibu kota propinsi Jawa Barat?”, anak yang tahu cara belajar akan memikirkan beberapa alternatif pemecahan ke mana ia harus mencari jawabannya. Di peta? Di Internet? Bertanya pada ayah? Guru? atau cara lain. Ia tak akan beku dalam kebingungan. Ia tahu bagaimana harus mencari jawaban.  Coba Anda bayangkan bila ketrampilan semacam ini dibawa si anak sampai ia menjadi seorang dewasa dan berkecimpung dalam kehidupannya yang sarat masalah. Sebuah kompetensi  yang luar biasa, bukan?
Learning How to Learn juga mendidik anak untuk tahu bahwa pengetahuan (knowledge) bisa didapatkan dengan berbagai cara.  Agar tahu nama tetangga barunya, tidak perlu  mencari jawabnya dengan browsing di internet, tapi cukup dengan bertanya langsung kepada yang bersangkutan. Agar tahu cara berenang,  tidak bisa diraih hanya dengan membaca buku, melainkan dengan berlatih berenang. Agar tahu mengapa terjadi tsunami, tidak bisa diraih dengan hanya melihat-lihat daerah bekas tsunami, tapi bisa dengan membaca buku, browsing di internet, melihat video animasi, bertanya pada ahli geologi, dan sebagainya. Intinya, anak harus tahu apa yang bisa dilakukan untuk mengetahui sesuatu. Ia harus tahu cara mana yang paling efektif untuk menjawab keingintahuannya. Ini  bisa dilakukan  dilakukan dengan berbagai cara namun masih dalam konteks yang sama, yaitu belajar.  Pertanyaannya adalah, bagaimana menanamkan Learning How to Learn ini dalam proses pembelajaran di sekolah?   Mungkin yang berikut ini bisa dipertimbangkan.
Pertama, mengurangi “nafsu” guru  untuk  memberi informasi atau berbicara terlalu banyak di kelas. Secara tradisional, guru memang banyak berbicara untuk menjelaskan sesuatu. Secara alamiah, guru akan menggunakan pendekatan verbal untuk menyampaikan informasi yang menurutnya  tidak diketahui siswa. Pendekatan ini  sebenarnya pantas dipertanyakan efektifitasnya untuk mencapai tujuan pembelajaran. Kemampuan seseorang untuk menangkap dan mengingat informasi yang disampaikan secara verval sangatlah terbatas. Bahkan, penggunaan bahasa verbal secara masif  mudah menimbulkan kebosanan.    Anak yang bosan cenderung akan mencari hal-hal lain yang menarik untuknya. Sangat alamiah, namun kita sering tidak menyadarinya.  
jadi,  guru harus “merelakan” sebagian informasi itu diperoleh anak melalui sumber belajar lain.  Tak harus dari -maaf- mulut  guru. Penjelasan verbal bukan satu-satunya.  Di sini, guru bisa berperan sebagai fasilitator dan pembimbing  agar siswa dapat secara mandiri mencari  informasi yang ia perlukan untuk mengetahui sesuatu atau menjawab   permasalahan.  
Memang, bagi sekolah tanpa sumber belajar yang memadai, hal ini sulit dilakukan.  Oleh karena itu, sang guru memang dituntut untuk lebih kreatif dan inovatif untuk menciptakan dan memanfaatkan berbagai sumber belajar yang ada di lingkungannya.  Misalnya, membuat (meminta siswa?) meng-kliping berita atau sumber baca apapun sebagai sumber informasi. Atau, memanfaatkan orang-orang kompeten di ligkungan sekitar sebagai narasumber.  Variasi pencarian sumber belajar di dalam  dan di luar sekolah  akan menumbuhkan motivasi siswa.  Bagi sekolah dengan akses internet dan perpustakaan yang memadai, tentu mengelola pembelajaran seperti itu akan lebih mudah.  Guru bisa mencari dan mendownload berbagai bahan ajar lewat internet,  misalnya dengan mengakses http://www.e-dukasi.net/.
Selain pencarian informasi, yang paling penting dalam proses pembelajaran  adalah agar setiap anak mengalami pengalaman belajar yang bermakna secara individu. Pengalaman belajar inilah yang sering hilang dari pembelajaran di kelas kita dewasa ini. Padahal komulasi pengalaman belajar inilah yang sebenarnya  akan membentuk kompetensi sesungguhnya pada diri peserta didik. 
Kedua, ajarkan anak untuk gemar bertanya. Bertanya adalah awal dari pengetahuan. Sayangnya, bertanya belum menjadi budaya belajar kita selama ini.  Karenaya, guru harus pandai  memancing  anak untuk bertanya, misalnya:  dengan memberikan ilustrasi yang menarik, dengan bantuan media visual, atau memberikan kasus-kasus masalah aktual yang terjadi di sekitar anak.  
Ketiga, upayakan agar proses pembelajaran bisa menyentuh aspek-apsek belajar siswa secara menyeluruh dan utuh.  Hasil belajar siswa  tentulah harus mencakup  kompetensi utuh seperti kognisi, afeksi dan psikhomotorik  dalam taksonomi Bloom.  Atau,  meliputi  lima kemampuan belajar Robert M. Gagne (keterampilan intelektal, staregi kognitif, informasi verbal, keterampilan motorik, dan sikap).  Level dan ragam belajar semacam ini sudah  sangat dikenal dalam ilmu pedagogi. Namun dalam implementasi kurang diperhatikan, bahkan cenderung diabaikan.  Mungkin ini memang dianggap terlalu sulit atau merepotkan bagi guru. Seandainya masing-masing guru mau (mampu?) mengaplikasikan itu,  tentu hasil belajar siswa akan lebih bermakna. Hasil belajar siswa bisa merupakan kompetensi  riil  yang utuh, bukan sekedar berupa rangkaian hapalan secara verbal atau sekedar mampu menjawab soal-soal  ujian.   Hal ini mestinya juga harus diaplikasikan dalam penilaian belajar siswa, termasuk dalam UN.

Terakhir- ini penting- pengelola sekolah harus mampu menciptakan agar sekolah benar-benar menjadi sebuah pusat sumber belajar bagi anak.  Guru, hanyalah salah satu sumber belajar, bukan satu-satunya. Masih banyak sumber belajar lain yang bisa dikembangkan, dipilih dan dimanfaatkan sebagai sumber belajar siswa. Kegiatan belajar  hanya akan efektif jika siswa  mendapat banyak  kesempatan untuk berinteraksi dengan sebanyak mungkin sumber-sumber belajar.  Dan itu ditempuh melalui proses pembelajaran menggunakan multi-metode, multi-media dan multi-sumber belajar yang bervariasi.     Untuk mewujudkan itu, maka keberadaan perpustakaan dan Pusat Sumber Belajar (PSB) yang memadai sangat diperlukan bagi sekolah.  Sayangnya, keberadaan PSB ini belum menjadi prioritas bagi sebagian besar pengelola sekolah kita.  Jangankan memadai, sekedar ada saja tidak. 
Kita prihatin, di jaman ICT ini masih banyak sekolah yang berjalan seadanya,  mengandalkan guru sebagai sumber belajar utama.
Dengan kenyataan itu, wajar saja jika akhirya sekolah hanya sekedar mengejar “target” minimal kurikulum, atau asal lolos dari syarat minimal nilai UN. Itupun masih mendingan, sebab ada yang lebih parah dari itu.
Kalau sudah begini, siapa yang mesti kita salahkan? Atau, memang kita tak boleh terlalu banyak berharap dari sekolah? Lalu,  apa yang perlu kita benahi lebih dulu?  
Sebagai seorang blogger (yang pasti telah akrap dengan ICT)  pedulikah Anda dengan kondisi sekolah kita?, Bagaimana  saran-saran  Anda dalam hal pemanfaatan ICT untuk peningkatan kualitas pembelajaran?

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: