Televisi Guru Yang Jahat ?

Sebuah posting  menyebutkan bahwa hanya 15% acara televisi (TV) yang aman ditonton anak-anak, dan 85% lainnya merusak anak.  Lalu, bloger itu menjuluki TV sebagai “guru privat yang jahat” bagi anak.   Perilaku amoral, seks bebas di kalangan remaja, tindak kekerasan,  dan lain-lain dituduh sebagai hasil pelajaran  guru jahat bernama TV itu.       Ya, dalam beberapa hal saya sependapat dengan tulisan itu. Saya tak akan menambah daftar dampak negatif  kehadiran guru jahat tersebut. Biar imbang, kali ini saya bicara netral tentang si kotak ajaib itu.  

Semua teknologi (termasuk TV), ibarat pisau bermata dua.  Teknologi, selain (diharapkan) membawa manfaat, namun sering juga mendatangkan kemudaratan.  Namun, rasanya  kita tak mungkin menghindar dari kehadiran teknologi. Di jaman batu  dulu, orang menolak hadirnya produk teknologi berupa pisau. Pisau  dianggap barang berbahaya yang  bisa membunuh orang. Tapi sekarang, siapa orang yang tak menyimpan pisau di dapur. Jadi, yang perlu dipikirkan adalah bagaimana mengendalikan dan memanfaatkan teknologi untuk kemaslahatan umat.  Bukan menolaknya. Kedengarannya klise, tapi ya begitulah seharusnya.

Kembali ke persoalan peran media TV. Tak bisa dipungkiri, dewasa ini media telah menjadi bagian penting dalam kehidupan kita. Media telah mempengaruhi hampir sepanjang waktu hidup seseorang. Bahkan seorang insinyur ternama Amerika Serikat, B. Fuller mengatakan bahwa media telah menjadi “orang tua ketiga” bagi anak (guru adalah orang tua kedua). Sayangnya, si orang tua ketiga  ini tak selalu bisa  mendidik anak-anak kita.  Memang, banyak tayangan televisi yang tak mendidik bagi anak,  sebagaimana ditulis bloger di atas.  Orang tua  semakin sulit memilih acara TV yang pantas ditonton anaknya.   Bagi stasiun TV,  barangkali karena alasan bisnis (tuntutan pasar)  maka stasiun TV itu  sulit menayangkan acara yang edukatif.   Membuat acara TV yang mendidik memang tak mudah,  dan mungkin lebih mahal.  Kalaupun ada,  belum tentu  menarik atau  laku dijual, lalu tak ada sponsor yang mau mbayar biaya tayangnya. Lebih enak membuat dan menyiarkan program hiburan yang laku sponsor, meskipun terpaksa mengabaikan nilai edukatifnya. Itulah kondisinya. 

Ibarat minuman, media edukatif itu seperti  jamu.  Jamu, dianggap penting dan perlu (oleh orang tua), tapi tak enak rasanya (bagi anak). Sedangkan media hiburan,  itu ibarat cocacola. Enak rasanya, meskipun dianggap tak penting. Kalo  anak diminta  memilih bebas, ya  sudah pasti akan pilih minum cocacola dibanding jamu (heehee orang tua juga).  Jadi,  yang harus kita upayakan  adalah, bagaimana kita bisa membuat jamu rasa cocacola.  Bagaimana membuat program TV yang mendidik sekaligus menghibur anak. Bagaimana membuat anak merasa sedang nonton hiburan, padahal ia sedang belajar melalui TV.  Jika kita bisa membuat program TV semacam itu, maka tuduhan  negatif terhadap media TV akan berkurang.  Jangan salahkan media TV jika kita tak dapat membuat program yang mendidik dan menghibur. 

Departemen Pendidikan Nasional telah membangun stasiun televisi bernama Televisi Edukasi (TVE), yang khusus menayangkan program-program pendidikan.     Secara konten, tayangan TVE sudah tentu bersifat edukatif.  Pertanyaanya adalah apakah program-program TVE   sudah menghibur sehingga anak-anak tertarik menontonya?  Nah itu masalahnya.  Memang tak mudah membuat program TV yang bisa jadi tuntunan sekaligus tontonan bagi anak.  Itulah yang sekarang yang terus diupayakan oleh Pustekkom Depdiknas.  Ini pekerjaan tak mudah. Perlu bantuan, dukungan dan partisipasi banyak pihak.  Para ahli konten, ahli media, ahli pendidikan, dan orang tua, perlu peduli dan ambil peran.  Jika tidak,  maka jangan salahkan jika media televisi akan makin menjelma menjadi orang tua yang jahat bagi anak-anak kita.  Anda peduli ?

13 Tanggapan

  1. program TV yang edukatif dan konco2nya memang yang kita butuhkan…🙂 tidak hanya sekedar sinetron bemodal bedak dan air mata, karena memang seharusnya anak cucu kita mendapat yang lebih baik dari apa yang saat ini ada di TV yang mereka tonton setiap hari, jadi kalau memang tidak ada yang lebih baik mengapa tidak dihentikan saja (sementara?) menjejali anak cucu kita dengan tontonan tidak bermutu yang berisiko menjadi panutan mereka, otak-otak kecil yang masih murni, masih dalam tahap belajar dan mencari contoh bersikap dan bertindak dari lingkungan sekitar dan apa yang mereka lihat sehari-hari. meniscayakan teknologi (televisi) memang tidak mungkin, yang bisa kita lakukan mungkin kontrol yang sedikit lebih ketat bagi anak-anak dan jangan sampai menganggap TV sama sekali tidak berbahaya

  2. jadi ini kisahnya Pustekkom Depdiknas bertarung melawan Raam Punjabi dan konco-konconya hehehe

    (saya dukung sampean dan rekan-rekan kerja sampean semua selamat bekerja)

  3. yang menjadi masalah ternyata rating riset kita menyebutkan sebagian besar rakyat Indonesia suka horor, drama cinta memble, infotainment dan kontes kontes ngejar mimpi..
    Berat nih antara komoditas dagang TV, dan kebutuhan pendidikan

  4. mas iman, itu dia maslahnya. program tv pendidikan kita belum mampu bersaing dengan program entertainment untuk merebut hati pemirsa. masih menunggu karya-karya edkatif mas iman.

  5. ~iman~
    weleh sampeyan kok percaya sama rating?rating itu dibuat memang untuk menjual acara itu untuk mencari pemasang iklan dan sponsor

  6. ckck…
    sejujurnya saya sendiri nggak suka sama televisi indonesia, khususnya sinetron-sinetron yang nayanginnya kalau ngga cinta yang akhirnya berantem ya apa gitu.
    kalau berita saya masih bisa tolerate lah, soalnya peran serta orang tua dibutuhkan juga, tetapi kalau sinetron, wew…

    film-film indo itu pasaran, kalau dulu sinetronnya boleh ngebajak, sekarang film-film nuansa horor semua, mental orang indonesia emank agak-agak kacau rupanya..

  7. cc 1912: setelah gak suka tv, what next?

  8. saya mo tanya ada beberapa gaya belajar selain visual audio dan kinestetika.mengapa yang dibahas hanya 3 itu?

  9. bono: posting ini memang hanya bicara media TV untuk belajar. Yang ada kaitannya dengan media ya gaya belajar spt iyang anda sebutkan itu. gaya belajar lain (misalnya dependent dan independent) mudah2 an lain kali. makasih

  10. […] Om Aristo, televisi adalah guru yang jahat. Kalo menurut saya, televisi, khususnya sinetron adalah […]

  11. […] Media dan Sumber Pembelajaran Alternatif [1] Aristo Hadi, “Televisi Guru yang Jahat?” dalam https://aristorahadi.wordpress.com/2008/04/08/televisi-guru-yang-jahat/ diakses 25 April […]

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: