Setan Ikut Sholat Jumat

Dalam sebuah diskusi agama di masjid, saya pernah bertanya kepada nara sumber. “Pak ustadz, bolehkah  khotib menyajikan materi khotbah menggunakan alat bantu seperti laptop, pake Power Point, atau program video?”  Mendengar pertanyaan saya itu, teman-teman peserta pengajian pada tertawa. Entah apa maksudnya.  Pak ustadz tak langsung menjawab, sepertinya mikir.  Lalu saya perjelas pertanyaan itu. “Maksudnya begini Pak ustad. Apa yang disampaikan oleh khotib secara lisan itu, akan makin jelas jika kita juga bisa lihat secara visual.   Misalnya ayat-ayat  yang sedang  dibaca khotib sekaligus terlihat di layar. Kalo perlu ada cuplikan gambar video untuk memberi contoh penerapan ayat itu secara kontekstual….”    Saya menghentikan pertanyaan, karena  peserta pengajian makin mentertawakan saya.  Padahal waktu itu saya bertanya serius. Tidak sedang bercanda.  Mana berani saya ngaco di depan ustadz.

“Begini  begini …” sahut Pak ustadz meminta jamaah tenang.  Dengan bijak, pak ustadz lalu menjawab pertanyaan saya.  Saya agak lupa jawaban persisnya.  Tapi kira-kira seperti ini.  ” Dalam ibadah umum, apapun boleh dilakukan, kecuali yang dilarang. Sedangkan dalam ibadah khusus, semua tak boleh dilakukan, kecuali  hanya yang diperintahkan”.

Saya manggut-manggut (padahal belum jelas benar apa maksud pak ustadz). Rupanya pak ustadz pun bisa membaca mimik saya yang masih berwajah  ragu.

“Dalam hal ibadah khusus seperti sholat”, lanjut pak ustadz,  “Rasulullah SAW bersabda: sholatlah kalian seperti apa yang saya lakukan”.   ” Menambah atau  mengurangi perkara dalam urusan ibadah khusus, itu bid’ah”.   Jadi,  lakukan apa yang Rasulullah lakukan, dan jangan lakukan apa yang tidak dilakukan Rasul”! ” Jelas?” tanya ustad sambil memandang saya.  Saya manggut-manggut lagi. Kali ini mencoba manggut-manggut lebih mantap, agar pak ustad yakin bahwa saya sudah makin jelas.  Saya memang sudah mulai ngerti ke mana arah jawaban ustad. Apalagi setelah  itu, pak ustadz masih menambah penjelasannya lagi. Tapi saya agak lupa. Meskipun masih menyisakan tanda tanya,  saya putuskan untuk tidak memperpanjang pertanyaan. Untuk mengakhiri, saya  mengucapkan terimakasih kepada ustadz yang tampak bijak  dan saleh itu.

Setelah sekian tahun, sisa pertanyaan itu tiba-tiba muncul lagi dalam benak saya.   Ini terjadi pada sholat Jumat hari ini.  Sambil mendengarkan khotbah Jumat tadi siang,  saya melirak-lirik (batal nggak ya) kiri kanan jamaah di sekitar saya.  Ternyata banyak jamaah …ngantuk.   Malah ada yang ngorok lagi. Sambil tetap bersimpuh khusuk, tentu. Pemandangan jamaah ngantuk  seperti ini sering kita lihat setiap kali khotbah Jumat.  Mungkin anda juga pernah mengalami. Sebenarnya, saya tadi juga ngantuk, tapi aku paksa-paksa melek.  Saya sendiri  heran kenapa mata ini tak mau berkompromi.  Digoda setan  kali ya.    Setan  memang banyak akal liciknya.  Kata guru ngaji saya di kampung dulu, setiap hari Jumat para setan berbodong-bondong menuju masjid untuk menggangu jamaah.  Lalu mereka bergelantungan di kelopak mata para  jamaah sholat Jumat.  Dan akibatnya…… leeerrrrrr…zzzsss.   Mata  jamaah tak  mau diajak khusuk.  Pesan-pesan mulia dari sang khotib lewat begitu saja.

Rupanya, masjid jadi tempat favorit juga buat setan.  Beberapa masjid memang merupakan tempat nyaman buat “beristirahat”.  Tempatnya luas, adem, damai, ada fasiltas, dan nyamanlah. Banyak orang memilih masjid sebagai tempat rebahan setelah beberapa jam bekerja atau perjalanan jauh, misalnya.  Masjid memang tempat nyaman untuk memejamkan mata.  Sialnya, hasrat memejamkan mata itu juga terjadi saat kita seharusnya mendengarkan khotbah.

Ngantuk, sebenarnya sesuatu yang sangat manusiawi.  Yang jadi masalah adalah jika ngantuk itu melanda sebagian besar jamaah setiap kali  khotbah sedang berlangsung. Sayang kan  pesan-pesan khotib setiap Jumat itu lewat begitu saja. Padahal materi khotbah tadi siang cukup menarik.

Teknik penyampaian pesan berupa ceramah (verbalistik, searah),  memang memiliki  kelemahan, antara lain  membosankan (bikin ngantuk).  Dalam pembelajaran di sekolah, penggunaan teknik ceramah   secara dominan kurang dianjurkan. Kenapa? karena siswa jadi cenderung pasip, dan efektifitasnya diragukan. Itu dalam dunia pembelajaran. Tentu tak bisa langsung dipersamakan dalam  berkhotbah. Kita tahu, tak mungkin(?) khotbah disampaikan dengan metode  tanya jawab atau diskusi. Kalo itu dibahas,  pasti banyak yang menentang.  Jadi, bukan itu yang saya pikirkan. Pertanyaan saya adalah mungkinkah menginovasi teknik presentasi dalam berkhotbah, misalnya dengan memanfaatan ICT?    Bolehkah seorang khotib menggunakan  LCD, Laptop, Power Point, atau program video,  saat berkhotbah?.   Tujuannya, tak lain adalah peningkatan efektifitas khotbah.

Sebenarnya, fasilitas  seperti laptop, power point dan video, bisa dipandang sebagai teknologi  alat bantu penyajian saja.  Bisakah itu disamakan dengan alat pengeras suara  atau kamera dan  CCTV yang sekarang sudah dipakai oleh beberapa masjid untuk keperluan sholat jumat? Kalo imam dan khotib sholat jumat boleh pake alat-alat itu, bolehkan khotib memakai alat bantu presentasi saat berkhotbah? Itu yang saya pikirkan.

Sebagai orang awam di bidang fiqih, saya nggak tau apakah penggunaan teknologi presentasi khotbah ini termasuk bid’ah atau bertentangan dengan  ilmu fiqih.   Intinya adalah bagaimana kita bisa memanfaatkan kemajuan ICT untuk kemajuan, termasuk peningkatan efektifitas khotbah.

Secara teori,  ceramah yang ditunjang dengan alat bantu saji (media pembelajaran),   bukan saja  menjadi lebih menarik, tetapi juga pesan yang disajikan akan lebih efektif.  Bagi masjid yang mampu, bisa juga materi khotbah itu lalu di buat hand outnya dan dibagikan kepada para jamaah.  Syukur setelah  selesai Jumatan diadakan  diskusi dan tanya jawab  tentang materi khotbah dengan narasumber khotib.  Hal ini pernah dilakukan di Masjid At-Tiin Taman Mini Jakarta.

Kembali ke khotbah dan ngantuk.  Lha, bagaimana kita mau mengamalkan pesan-pesan khotib  jika setiap dikhotbahi para jamaah ngantuk.  Padahal  moment sholat Jumat adalah kesempatan sangat berharga bagi umat islam.   Ritual setiap Jumat itu sangat potensial  sebagai forum membina umat.  Ini sebuah forum rotin yang tak dimiliki oleh umat-umat lain. Tanpa harus diundang, forum jumatan mampu mengumpulkan umat di suatu tempat. Mereka siap menerima nasihat sang khotib.  Luar biasa. Sangat sulit  mengumpulkan jutaan  orang seminggu sekali untuk mendengarkan  ceramah, kecuali jumatan.   Alangkah sayangnya, jika  materi khotbah jumat dilewatkan begitu saja oleh para jamaah akibat ngantuk.   Sampai saat ini, berapa ratus/ribu kali kita  mendengarkan khotbah jumat?   Dan berapa persen  pesan-pesan  khotib yang masih kita ingat (apalagi amalkan?).    What next?

Belajar hanya melalui pendengaran verbal saja, memang kurang efektif hasilnya. Peralatan multimedia diharapkan mampu meningkatkan efektifitas penyampaian pesan (ini kata para ahli TP).   Namun untuk urusan khotbah, kita tahu, tak boleh asal berinovasi.   Ini tentu butuh ijtihat para ulama yang kompeten. Mana yang boleh ada inovasi dalam ibadah, dan mana pula yang dilarang syariah.

Ini pertanyaan rada aneh kali. Bagi sebagian kalangan, mungkin dianggap pertanyaan “kurang kerjaan”. Tapi Allah maha tahu apa yang ada di balik pikiran hambaNya. Nah, bagaimana menurut Anda?

6 Tanggapan

  1. Assalamu’alaikum ..Wr.Wb Jawaban ustadz anda sudah jelas. Yang penting anda jangan ngantuk..Orang lain ngantuk ? Hanya Allah yang tahu..tidak selalu merem itu mendengar kan. Wassalamu’alaikum wr wb

  2. silakan dipikirkan

  3. nunusaku, saya doakan anda segera mendapat hidayah-Nya.

  4. mungkin juga karena isi materi khotbah yang “itu-itu aja” diambil dari buku2 khotbah jumat yg dijual di toko buku…. hehe

    Boleh juga tuh kyknya make alat bantu, biar gak pada ngantuk… tapi saya lebih yakin kalo cara penyampain khotbah gak ngebosenin (“gak itu-itu aja”) dijamin banyak yang melek.
    hehe

    Khotbah tentang ayat Al-quran yang berbau sains pasti menarik tuh. Selama ini kan kebanyakan ayat2 fikih aja…

  5. Perkembangan dunia IT semakin hari semakin berkembang, jika dulu Nabi khotbah tidak ada mike atau wireless skrg pada ustad sudah pakai mike atau wireless, jadi ga salah jika khotbah memakai powerpoint atau yg lainnya….

  6. Menurut saya sih ga’ ada masalah khotbah pake powerpoint atau multimedia, yang penting materinya atau contoh implementasinya yang berhubungan dengan ayat yang disampaikan tidak melenceng.
    Tapi yang perlu diperhatikan adalah harus ada satu tim di masjid tersebut yang terdiri dari para ulama / ustad yang memahami tentang fiqih yang berhubungan dengan sholat jum’at. Jadi materi kutbah jum’at harus sudah dapat diperiksa oleh tim ustad yang memiliki kompetensi dibidang tersebut.
    Dan yang lebih penting lagi adalah ngantuk dan mendengarkan kutbah bukan semata-mata merupakan materi kutbah, tapi memang jamaah tersebut tidak memiliki niat yang kuat untuk mendengarkan kutbah, atau mungkin sudah kelelahan bekerja, sehingga mendengarkan ceramah jadi ngantuk……

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: