Sikap Siswa Terhadap SMP Terbuka

Banyak definisi sikap yang dikemukakan oleh para ahli dengan  berbagai versi dan sudut pandang masing-masing. Dari berbagai definisi yang ada, Azwar mengklasifikasikannya menjadi tiga kelompok kerangka pemikiran, yaitu: (1) kelompok yang mengartikan sikap sebagai  bentuk evaluasi atau reaksi perasaan, (2) kelompok yang mengartikan sikap sebagai kesiapan untuk bereaksi terhadap suatu obyek, dan (3) kelompok yang mengartikan sikap sebagai konstelasi komponen kognitif, afektif dan konatif yang saling berinteraksi dalam memahami, merasakan dan berperilaku terhadap suatu obyek.[1]                Berdasarkan pengelompokan tersebut, Thurstone merupakan salah satu tokoh yang termasuk dalam kelompok pertama. Salah satu definisi yang dikemukakan oleh Thurstone menyatakan bahwa sikap adalah derajad perasaan positif atau negatif  terhadap suatu objek psikhologis.[2]  Berdasarkan definisi ini, Thurstone menganggap bahwa sikap hanya berkaitan dengan aspek afeksi manusia saja, seperti  rasa suka/tidak suka, setuju/tidak setuju, mencintai/membenci terhadap suatu obyek.     Akinson dan Hilgard juga mengemukakan pendapat yang hampir sama dengan definisi Thurstone.  Menurut mereka,   sikap meliputi rasa suka dan tidak suka, mendekati atau menghindari terhadap situasi, benda, orang, kelompok atau aspek lingkungan lainnya, termasuk gagasan abstrak dan kebijakan sosial.[3]  Meskipun demikian, pendapat Atkinson dkk ini tidak sepenuhnya  mendukung kelompok ini, sebab pada bagian lain mereka juga menyatakan bahwa walaupun sikap merupakan perasaan seseorang namun sangat terkait dengan kognisi (khususnya keyakinan) dan juga berkaitan dengan tindakan.[4]                 Definisi sikap yang termasuk kelompok kedua antara lain dikemukakan oleh LaPierre. Menurutnya, sikap merupakan suatu pola perilaku, tendensi atau kesiapan antisipatif dan predisposisi untuk menyesuaikan diri dalam situasi sosial.   Dijelaskan pula bahwa  sikap merupakan respon terhadap stimuli sosial yang telah terkondisikan, semacam kesiapan seseorang untuk bertindak dengan cara-cara tertentu terhadap suatu obyek tertentu.[5]   Jadi dalam hal ini LaPiere menganggap bahwa sikap berkaitan dengan aspek  perilaku (action tendency) seseorang. Pendapat  senada juga disampaikan oleh Gagne yang mengartikan sikap sebagai keadaan internal seseorang yang mempengaruhi pilihan seseorang atas tindakan pribadi. Namun menurut Gagne, sikap tidak menentukan perilaku seseorang secara langsung, melainkan hanya  kurang lebih mempengaruhi kemungkinan  terjadinya tindakan tertentu. Oleh karena itu sikap sering dijelaskan sebagai suatu “kecenderungan merespon” atau keadaan yang bercirikan “kesiapan untuk merespon”.[6] Pendapat ini juga disam-paikan oleh Sarwono yang mengartikan sikap sebagai kesiapan seseorang untuk bertindak secara tertentu terhadap hal-hal tertentu.[7]                Berbeda dengan kedua kelompok tersebut, yang menganggap sikap hanya meliputi satu aspek saja, pada kelompok ketiga menje-laskan sikap  terdiri dari tiga aspek yakni afeksi, konasi dan kognisi.  Definisi yang dikemukakan oleh Krech, Crutchffield dan Ballanchey dapat dimasukkan dalam kelompok pemikiran ini.  Menurut mereka, sikap  adalah “an enduring system of three component centering about a single object: the beliefs about the object (the cognitive component), the affect connected with the object (the feeling component) and the disposition to make action with respect to the object (the action tendency component).[8]    Jadi, Krech, Crutchfield dan Ballanchey, menganggap  bahwa sikap manusia merupakan suatu sistem/ organi-sasi yang  bersifat abadi (relatif tetap), meliputi keyakinan, perasaan dan kesiapan bertindak dari  seseorang terhadap obyek tertentu.  Dengan demikian, menurutnya komponen sikap ada tiga yaitu; komponen kognisi, afeksi/feeling dan kecenderungan bertindak (action tendency). Sejalan dengan pendapat tersebut, Calhoun dan Acocella mengartikan sikap sebagai sekelompok keyakinan dan perasaan yang melekat tentang obyek tertentu, serta kecenderungan seseorang untuk bertindak terhadap obyek tersebut dengan cara tertentu.[9]   Dari beberapa definisi sikap yang telah dikemukakan sebe-lumnya, dapat terlihat adanya beberapa komponen dalam sikap. Azwar yang mendasarkan kerangka pemikiran skema triadik, menyimpulkan adanya tiga komponen sikap yaitu: kognitif (cognitive), afektif (affective) dan   konatif (connative).[10]  Hal tersebut juga sesuai dengan pendapat   Calhoun dan Acocella  yang mengemukakan adanya  tiga komponen sikap yaitu: komponen kognitif (keyakinan), emosi (perasaan), dan komponen perilaku (tindakan).[11] Komponen kognitif merupakan representasi apa yang dipercayai oleh seseorang, komponen afektif merupakan perasaan yang menyangkut aspek emosional, dan komponen konatif merupakan aspek kecenderungan berperilaku tertentu sesuai sikap yang dimiliki oleh seseorang. Sears, Freedman dan Peplau juga menyebutkan tiga komponen sikap yaitu kognitif, afektif dan perilaku.[12] Komponen  kognitif terdiri dari seluruh kognisi yang dimiliki seseorang mengenai obyek sikap ter-tentu (fakta, pengetahuan, dan keyakinan tentang obyek). Komponen afektif terdiri terdiri dari seluruh perasaan atau emosi seseorang terhadap obyek, terutama penilaian. Komponen perilaku terdiri dari kesiapan seseorang untuk bereaksi atau kecenderungan untuk  bertindak terhadap obyek.  Begitu pula Krech, Crutchfield dan Ballachey  juga  menyebutkan adanya tiga komponen sikap yaitu: cognitive, feeling dan action tendency.[13] Komponen cognitive merupakan keyakinan seseorang terhadap suatu obyek tertentu. Keyakinan ini berkaitan dengan pengetahuan, pemahaman dan konsepsi seseorang terhadap obyek tersebut. Komponen feeling, berkaitan dengan hubungan emosional seseorang, seperti suka atau tidak suka terhadap suatu obyek tertentu. Sedangkan action tendency merupakan kesiapan seseorang untuk berperilaku terhadap obyek tersebut.    Berdasarkan uraian tersebut dapat disimpulkan bahwa pada hakekatnya sikap adalah keyakinan, perasaan dan kecenderungan bertindak dari seseorang terhadap obyek tertentu. Obyek sikap tersebut dapat berupa benda, orang, institusi sosial maupun peristiwa tertentu. Sikap seseorang terhadap suatu obyek dapat bersifat positif, dapat pula bersifat negatif.  Jika seseorang mempunyai sikap positif terhadap obyek tertentu, maka ia akan cenderung   mendekati, menye-nangi atau mengharapkan obyek tersebut.  Sebaliknya, jika sikapnya negatif, maka ia akan cenderung menjauhi, menghindari, membenci dan tidak menyenangi obyek tersebut.  Sikap memiliki tiga komponen, yaitu:  kognisi, afeksi dan konasi. Komponen kognisi berkaitan dengan keyakinan seseorang terhadap suatu obyek  tertentu, berdasarkan  pengetahuannya  tentang obyek tersebut. Komponen afeksi merupakan perasaan yang menyangkut hubungan emosional seseorang terhadap obyek sikap. Sedangkan komponen konasi berkenaan dengan kecenderungan atau kesiapan seseorang untuk melakukan  tindakan   tertentu terhadap obyek yang disikapi.Ketika seseorang bersikap terhadap sesuatu obyek, maka ketiga komponen sikap tersebut akan mempolakan arah yang seragam sehingga membentuk keselarasan dan konsistensi. Menurut Azwar, apabila salah satu diantara komponen sikap tidak konsisten dengan komponen lainnya, maka akan terjadi ketidakselarasan yang menyebabkan timbulnya mekanisme perubahan sikap hingga tercapai konsistensi kembali.[14]   Sikap seseorang terhadap  suatu obyek berperan sebagai perantara antara respon yang dilakukan orang tersebut dengan obyek yang disikapi. Respon tersebut bisa berupa respon kognitif (reaksi pesrseptual dan pernyataan mengenai apa yang diyakini) respon afektif (respon syaraf simpatetik dan peryataan afeksi), maupun respon konatif (berupa tindakan dan pernyataan mengenai perilaku).[15]   Dengan melihat salah satu  diantara ketiga bentuk respon tersebut, maka sikap seseorang terhadap obyek sudah dapat diketahui. Namun demikian jika kita ingin mengetahui deskripsi lengkap mengenai sikap individu terhadap suatu obyek, maka ketiga bentuk respon tersebut harus dilihat secara lengkap.   Sikap seseorang dapat difahami secara mendalam lebih dari sekedar melihat seberapa positif atau negatif sikap tersebut.  Sax menunjukkan beberapa karakteristik sikap berdasarkan lima dimensi, yaitu: arahnya, intensitasnya, keluasannya, konsistensinya dan spontanitasnya.[16]    Sikap mempunyai arah, artinya sikap terpilah pada dua arah : positif dan negatif. Reaksi seperti  setuju, senang, mendukung,  menunjukkan arah sikap yang positif. Begitu pula sebaliknya.   Sikap memiliki intensitas, artinya kedalaman atau kekuatan sikap setiap orang belum tentu sama meskipun arahnya sama.  Walaupun sekelompok orang yang sama-sama bersikap  tidak setuju (negatif)  terhadap  SMP Terbuka misalnya, namun intensitas ketidak-setujuannya dapat berbeda.  Sebagian mungkin menyatakan sangat  tidak setuju, yang lain mungkin sekedar kurang setuju. Sikap juga memiliki keluasan, maksudnya kesetujuan atau ketidaksetujuan terhadap suatu obyek dapat bersifat spesifik (hanya terhadap aspek tertentu saja), dapat juga mencakup aspek yang  sangat luas terhadap obyek tersebut.  Misalnya, ada orang yang menyatakan tidak senang terhadap segala hal yang berkaiatan dengan SMP Terbuka. Orang yang lain, juga bersikap negatif terhadap SMP Terbuka namun bukan untuk semua aspek,  misalnya hanya tidak senang  dalam hal cara belajarnya saja. Sikap juga memiliki konsistensi, artinya kesesuaian antara pernyataan sikap yang dikemukakan dengan responnya terhadap obyek sikap tersebut. Sikap juga dianggap konsisten jika bersifat stabil,  tidak cepat berubah dan berkesinambungan dalam waktu yang relatif lama. Konsistensi dalam bersikap tidak sama tingkatannya pada setiap individu dan setiap obyek sikap. Sikap seseorang terhadap sesuatu obyek memang mungkin berkembang, namun sikap yang sangat cepat berubah menunjukkan inkonsistensi sikap seseorang.  Sikap yang tidak konsisten antara pernyataan dengan  perilakunya atau mudah berubah dari waktu ke waktu akan sulit diintepretasikan untuk memahami dan  memprediksi perilaku seseorang.  Misalnya, sese-orang yang menyatakan sangat mendukung adanya SMP Terbuka, maka dia akan senang ketika  di daerahnya dibuka SMP Terbuka, dia akan bersedia mendaftarkan anaknya, ikut mensosialisasikan kebera-daannya,  bahkan bersedia memberikan bantuan yang diperlukan. Jika sikap semacam ini dimiliki oleh  orang tersebut  dalam waktu yang relatif lama, maka hal ini menunjukkan  konsistensi sikap orang itu terhadap SMP Terbuka.Karakteristik sikap yang lain adalah spontanitasnya, yaitu menyangkut sejauh mana kesiapan individu untuk menyatakan sikapnya secara spontan. Sikap dikatakan spontanitasnya tinggi jika dapat dinyatakan secara terbuka tanpa pengaruh/desakan  dari fihak lain. Misalnya, dua orang siswa SMP Terbuka ditanyakan pendapatnya mengenai perasaannya menjadi siswa SMP Terbuka.  Siswa yang satu secara spontanitas menyatakan kebanggaannya, sedangkan siswa yang lain, meskipun akhirnya juga menyatakan kebanggaaanya, namun pernyataan itu setelah dipengaruhi atau mendapat desakan dari orang lain. Tingkat spontanitas sikap seseorang memang sulit diketahui dengan menggunakan instrumen skala sikap. Oleh karena itu jika memungkinkan memang harus dilakukan pengamatan secara langsung terhadap individu pada saat ia menyatakan sikapnya.Idealnya, pengukuran dan pemahaman terhadap sikap harus mencakup semua dimensi sikap tersebut. Namun,  hal ini tentu akan sangat sulit dilakukan. Beberapa skala sikap yang digunakan selama ini umumnya hanya mengungkap dimensi arah positif atau negatif, serta intensitasnya seberapa positif atau seberapa negatif. Terbentuknya sikap tertentu pada seseorang  sangat dipenga-ruhi oleh interaksi sosial yang dialami setiap individu. Dalam berinteraksi sosial, seseorang berreaksi membentuk pola sikap tertentu terhadap obyek yang dihadapinya. Secara lebih jelas, Sarwono mengidentifikasi adanya beberapa karakteristik sikap, antara lain :  (1) adanya hubungan subyek dengan obyek sikap, (2) sikap terbentuk melalui pengalaman, bukan pembawaan sejak lahir, (3) sikap seseorang dapat berubah  sesuai keadaan lingkungan seseorang.[17]  Banyak faktor yang dapat mempengaruhi  terbentuknya sikap  pada diri seseorang.  Azwar menyebutkan beberapa  faktor tersebut, yakni: pengalaman pribadi, kebudayaan, orang lain yang dianggap penting (berpengaruh), media masa, institusi atau lembaga pendidikan dan lembaga agama,  serta faktor emosi dalam diri individu.[18]  Perbedaan kondisi faktor-faktor tersebut pada seseorang, akan menyebabkan perbedaaan sikap seseorang terhadap suatu obyek yang dihadapi.  Dengan demikian, mungkin saja setiap  siswa SMP Terbuka  memiliki sikap yang berbeda-beda terhadap  SMP Terbuka.    Perbedaan sikap tersebut  mungkin saja karena adanya perbedaan berbagai faktor dan kondisi diantara mereka. Secara lebih mendalam, Sears, Fredman dan Peplau menjelas-kan pembentukan sikap berdasarkan beberapa teori yaitu; Teori Belajar, Teori Insentif dan Teori Konsistensi Kognisi.[19]Dari sudut pandang Teori  Belajar,   sikap seseorang terbentuk dengan cara yang sama dengan kebiasaan lainnya yakni melalui proses belajar.  Orang belajar selain memperoleh informasi dan fakta-fakta, mereka juga mempelajari perasan-perasaan dan nilai-nilai yang berkaitan dengan fakta tersebut. Proses-proses dasar terjadinya belajar dapat diterapkan pula dalam pembentukan sikap.  Belajar mengenai sikap,  dapat dilakukan melalui proses  asosiasi (mengkait-kan obyek sikap dengan nilai atau citra tententu), peneguhan kembali (memantapkan sikap melalui pengalamannya), dan imitasi (meniru  orang lain ).[20]   Teori Insentif menyatakan bahwa sikap terbentuk setelah seseorang mempertimbangkan baik-buruk suatu obyek, kemudian ia mengambil alternatif terbaik. Menurut pendekatan ini, sikap terbentuk setelah seseorang mempertimbangkan  keuntungan atau kerugian apa yang akan dialami seseorang dengan mengambil sikap tertentu terhadap obyek.[21]     Teori Konsistensi Kognitif beranggapan bahwa seseorang selalu  berusaha mencari konsisten diantara kognisi mereka.  Individu yang memilki keyakinan atau nilai yang tidak konsisten satu dengan lainnya akan berusaha untuk membuat nilai atau keyakinan itu menjadi lebih konsisten. Demikian pula jika kognisi  seseorang yang konsisten dihadapkan pada kognisi baru yang menimbulkan ketidak-konsistenan, ia akan berusaha untuk meminimal-kan ketidak-konsistenan itu.  Jadi, menurut teori ini motif utama dalam pembentukan sikap adalah untuk memperbaiki atau mempertahankan konsistensi kognisi.[22]                Sebagaimana telah dijelaskan, setiap sikap memiliki  obyek tertetu.  Obyek sikap dapat berupa orang, benda, institusi sosial, peristiwa  dan sebagainya. Sikap seseorang terhadap obyek tertentu akan  dapat diketahui   jika obyek sikap tersebut juga teridentifikasi secara jelas. Dalam hal ini,  obyek sikap yang akan dikaji adalah SMP Terbuka. Karena siswa SMP Terbuka telah menjadi bagian dari sistem SMP Terbuka, maka dalam diri setiap siswa SMP Terbuka tentu saja telah terbentuk sikap tertentu terhadap SMP Terbuka tempat mereka belajar. Dengan demikian, adalah cukup relevan jika dilakukan pengukuran sikap siswa  terhadap SMP Terbuka tersebut.  Dalam kaitannya sebagai obyek sikap, SMP Terbuka dibahas pada bagian berikut.                 SMP Terbuka  merupakan lembaga pendidikan formal tingkat SLTP, yang menyelenggarakan pendidikan dengan sistem pendidikan terbuka. Setiap sistem pendidikan terbuka, mempunyai karakteristik khusus yang membedakannya dengan sistem pendidikan konven-sional.  Miarso memandang SMP Terbuka sebagai suatu subsistem dari sistem persekolahan yang  mempunyai ciri-ciri: (1)  siswanya lebih banyak belajar mandiri, (2) gurunya berbagi peran dengan narasumber lain, baik yang ada di sekitar siswa maupun yang terpisah jauh, (3) sumber belajarnya bervariasi terutama bahan yang dikemas untuk belajar mandiri, (4) mempertimbangkan kondisi dan karakteristik siswa dalam penyelenggaraan belajar-pembelajaran, (5) kegiatan belajar-pembelajaran tidak terjadwal pada tempat dan waktu yang ketat, dan (6) memanfaatkan lingkungan tempat tinggal siswa sebagai sumber belajar.[23]                Kaitannya dengan sikap siswa terhadap SMP Terbuka, maka berbagai  komponen pada  sistem SMP Terbuka  merupakan obyek sikap bagi setiap siswa SMP Terbuka. Sadiman menyebutkan komponen-komponen SMP Terbuka meliputi: kurikulum, guru dan sumber tenaga lainnya, siswa,   proses belajar mengajar,  serta sarana dan prasarana belajar.[24]  Dalam penjelasan lain Sadiman, Seligman dan Rahardjo menyebutkan komponen SMP Terbuka, terdiri dari: siswa, kurikulum, bahan belajar, lingkungan dan fasilitas belajar, ketenagaan, anggaran serta administrasi sekolah.[25]    Kedua penjelasan tentang komponen SMP Terbuka tersebut hampir sama, meskipun  penjelasan  yang kedua terlihat lebih lengkap dibandingkan dengan  yang pertama. Namun demikian, dua komponen   terakhir pada pendapat kedua (yakni anggaran dan administrasi sekolah), sebenarnya kurang memiliki relevansi sebagai obyek sikap bagi  seorang siswa SMP Terbuka.  Hal ini karena kedua komponen tersebut tidak terkait langsung dengan urusan siswa sehingga menjadi kurang proporsional untuk mengukur sikap siswa terhadap kedua komponen  tersebut.  Sementara itu, selain beberapa komponen yang telah disebutkan, sebenarnya masih ada aspek-aspek lain yang justru lebih terkait langsung dengan siswa, yaitu tentang peran dan status SMP Terbuka.  Sikap siswa terhadap kedua aspek ini jusrtu lebih relevan untuk dikaji secara lebih mendalam.                Atas dasar  uraian tersebut, maka dapat disimpulkan  bahwa komponen SMP Terbuka yang menjadi obyek sikap bagi siswa meliputi: kurikulum, ketenagaan/personil, kegiatan pembelajaran, bahan dan fasilitas belajar, kesiswaan, serta peran dan status SMP Terbuka. Beberapa komponen  itu selanjutnya  akan menjadi dimensi-dimensi dari obyek sikap siswa terhadap SMP Terbuka dalam penelitian ini.   Oleh karena itu, untuk memperoleh gambaran yang lebih jauh mengenai SMP Terbuka sebagai obyek sikap, perlu dijelaskan secara singkat  masing-masing komponen tersebut.  1) KurikulumKurikulum yang dipergunakan di SMP Terbuka tidak berbeda dengan kurikulum yang berlaku di sekolah reguler. Dalam penelitian ini kurikulum dimaknai secara sempit agar terkait langsung dengan siswa, yakni terfokus pada sejumlah mata pelajaran yang dipelajari siswa.  Di SMP Terbuka, sejumlah mata pelajaran tersebut telah dituangkan dalam berbagai bahan belajar, baik cetak (modul) maupun non cetak. Termasuk dalam pengertian kurikulum di sini adalah sejumlah program keterampilan dan mata pelajaran muatan lokal  yang diselenggarakan di SMP Terbuka. 2) KetenagaanHampir semua tenaga  pengelola SMP Terbuka memanfaatkan tenaga yang telah ada, yaitu tenaga yang juga mengelola sekolah reguler.  Penyelenggaraan SMP Terbuka tidak mengangkat tenaga baru yang secara khusus hanya mengelola SMP Terbuka. Ketenagaan yang ada di SMP Terbuka meliputi:  kepala sekolah dan wakil kepala sekolah, guru bina, guru pamong dan tenaga administrasi.   Setiap SMP Terbuka dipimpin oleh seorang kepala sekolah yang sekaligus juga sebagai kepala di sekolah induknya. Kepala sekolah dibantu oleh seorang wakil kepala yang diangkat dari salah satu guru di sekolah induk dan diberi tugas untuk mengkoordinir  kegiatan  SMP Terbuka sehari-hari.   Guru bina adalah guru mata pelajaran dari sekolah induk yang ditugasi membina mata pelajaran tertentu di SMP Terbuka sesuai kompetensinya. Termasuk juga sebagai guru bina adalah guru Bimbingan dan Konseling  (BK), yang bertugas membantu siswa SMP Terbuka yang menghadapi  masalah tertentu.  Guru Pamong adalah orang yang bertugas membimbing siswa selama  belajar di Tempat Kegiatan Belajar (TKB).  Setiap lokasi TKB biasanya memiliki 1 hingga 3 orang guru pamong. Guru Pamong tidak bertanggungjawab menyajikan materi pelajaran, melainkan hanya membimbing, memotivasi dan mengawasi siswa agar dapat belajar secara mandiri, sehingga guru pamong tidak dipersyaratkan memiliki kualifikasi sebagai pengajar di SMP.  Guru Pamong biasanya direkrut dari guru SD atau tokoh masyarakat yang ada di sekitar  lokasi TKB.  Tenaga administrasi di SMP Terbuka adalah petugas tata usaha yang diambil dari sekolah induk, yang secara umum memiliki tugas yang sama seperti  di sekolah induk. 3) Bahan dan Fasilitas BelajarBahan belajar utama bagi siswa SMP Terbuka adalah bahan ajar cetak berupa  modul. Untuk topik-topik modul tertentu dilengkapi juga dengan bahan ajar berupa program kaset audio. Modul-modul tersebut dibagikan kepada setiap siswa SMP Terbuka agar dapat dipelajari secara mandiri kapan saja dan di mana saja. Sedangkan program audio disediakan di setiap TKB. Kecuali modul dan program audio, di sekolah induk juga disediakan bahan belajar penunjang lain berupa  program media  transparansi (OHT) dan  program video pembelajaran. Bahan belajar penunjang ini  dapat dimanfaatkan siswa pada saat tutorial dengan bimbingan guru bina.   Fasilitas   lain yang bisa dimanfaatkan siswa SMP Terbuka adalah berbagai fasilitas belajar  yang dimiliki oleh sekolah induknya, misalnya: laboratorium, perpustakaan atau  sarana olahraga dan kesenian. Selain itu, fasilitas  lain yang ada pada setiap SMP Terbuka adalah berupa TKB (tempat kegiatan belajar).  Di SMP Terbuka, TKB merupakan fasilitas penting, sebab justru di sinilah siswa lebih banyak melakukan kegiatan belajar dibandingkan dengan kegiatan di sekolah induknya. Lokasi TKB biasanya berada tidak jauh dari tempat tinggal siswa, dengan  memanfaatkan sarana yang ada seperti gedung SD, balai desa, rumah penduduk, rumah ibadah atau bangunan  lain yang memungkinkan. 4) Kegiatan PembelajaranSebagian besar kegiatan belajar di SMP Terbuka dilakukan siswa secara mandiri, baik melalui kegiatan belajar sendiri di rumah maupun secara berkelompok di TKB.  Karena siswa belajar secara mandiri, maka bahan belajar atau media belajar di SMP Terbuka didesain agar sekaligus juga dapat berfungsi sebagai pengganti   sebagian peran guru. Dalam seminggu, selama 4 -5 hari siswa belajar secara mandiri di TKB dengan didampingi guru pamong.  Kecuali itu,  selama 1 atau 2 hari seminggu diadakan  pula kegiatan tutorial (tatap muka) bersama guru bina di sekolah induk.  Kegiatan turorial biasanya difokuskan untuk memecahkan kesulitan belajar atau menjawab pertanyaan  siswa yang belum dapat dipecahkan ketika mereka belajar di rumah atau di TKB. Kesempatan tutorial biasanya juga dimanfaatkan untuk kegiatan belajar  yang bersifat praktek yang tidak bisa dilakukan di TKB.   Komponen kegiatan pembelajaran di SMP Terbuka ini juga termasuk seluruh kegiatan evaluasi belajar baik yang dilaksanakan di TKB maupun di sekolah induk, yakni evaluasi mandiri, tes akhir modul, tes akhir unit dan ujian akhir. 5) Kesiswaan Siswa SMP Terbuka mempunyai status yang sama dengan siswa reguler yang belajar di sekolah induk. Siswa SMP Terbuka adalah lulusan Sekolah Dasar atau Madrasah  Ibtidaiyah  yang berusia antara 11 sampai 18 tahun, terutama yang memiliki kendala geografis dan sosial ekonomis. SMP Terbuka juga memberi kesempatan bagi siswa putus sekolah dari SMP, MTs. atau sekolah lain yang sederajad.   Sepanjang sumber daya yang ada di sekolah induknya memung-kinkan, maka SMP Terbuka tidak melakukan seleksi yang ketat terhadap calon siswa yang mendaftar ke SMP Terbuka. Kebijakan ini dilakukan dalam rangka menuntaskan program wajib belajar pendi-dikan dasar 9 tahun. 6)  Peran dan Status SMP Terbuka.Secara kelembagaan, SMP Terbuka memiliki status yang sama dengan sekolah reguler (sekolah induknya). Pada dasarnya, SMP Terbuka bukan merupakan unit pelaksana teknis (UPT) baru, melain-kan sebagai bentuk perluasan layanan sekolah induk yang bersangkutan. Keberadaan SMP Terbuka diharapkan dapat menam-pung anak usia SLTP yang karena sesuatu kendala tertentu tidak memungkinkan  belajar di sekolah reguler.  Lulusan SMP Terbuka  akan memiliki status dan hak  yang sama dengan lulusan sekolah reguler, termasuk ijazah yang mereka terima. Bagi lulusan yang ingin melanjutkan ke jenjang pendidikan yang lebih tinggi atau ingin bekerja, mereka juga  mendapatkan pengakuan yang sama dengan alumni sekolah biasa.                Berdasarkan uraian tersebut, maka secara singkat dapat dijelaskan bahwa yang dimaksud dengan sikap siswa terhadap SMP Terbuka adalah pemahaman, perasaan dan kecenderungan bertindak siswa terhadap komponen-komponen SMP Terbuka.  Sikap siswa terhadap SMP Terbuka tersebut dapat diukur dengan menggunakan seperangkat instrumen yang dikembangkan berdasarkan komponen sikap (kognisi, afeksi dan konasi), serta komponen-komponen SMP Terbuka sebagai obyeknya (meliputi komponen kurikulum, ketenagaan, kegiatan pembelajaran, bahan dan fasilitas belajar, kesiswaan, serta peran dan status  SMP Terbuka).


[1] Saifuddin Azwar,  Sikap Manusia Teori dan Pengukurannya  Edisi ke 2  (Yogyakarta : Pustaka Pelajar, 1995),  pp. 4-5.

[2] Daniel J. Muller, Measuring Social Attitudes, A Handbook for Reasearchers and Practitioners (New York and London : Teachers College Press, 1986), p. 3.

[3] Rita L. Atkinson, Richard C. Atkinson dan Ernest R. Hilgard,  Pengantar Psikologi, edisi ke-8 jilid 2 ,   terj. Nurdjannah Taufik (Jakarta : Erlangga, 1996) , p. 371.

Ibid.

Azwar, op. cit., p. 5

Robert M. Gagne, The Conditions of Learning.   ( New York: Holt, Rinehart and Wiston Inc., 1977),  pp. 231-232.

 Sarlito W. Sarwono,   Pengantar Umum Psikhologi.  (Jakarta : Bulan Bintang, 1976), pp. 103-104.

[8] David Krech, Richard S. Crutchfield and Egerton L. Ballachey.  Individual in Society, A Textbook of Social Psychology  ( New York : McGraw-Hill Book Company Inc., 1962), p. 146.

[9] James F. Calhoun and Joan R. Acocella, Psikologi tentang Penyesuaian dan Hubungan Kemanusiaan, perterj. RS. Satmoko (Semarang :  IKIP Semarang Press, 1990), p. 315

Azwar, op.cit.,  pp. 23-24.

Calhoun and   Acocella, loc. cit.

David O. Sears, Jonathan L. Freedman dan L. Anne Peplau.  Psikologi Sosial. Terj. Michael Adryanto dan Savitri Soekrisno. (Jakarta : Erlangga, 1996), p. 138.

Krech, Crutchfield and Ballachey, op. cit. p.140.

Azwar,  op. cit. , p. 28

Ibid.,  p. 7

 Azwar, op.cit.,  pp. 87-89

 Sarwono, op.cit,  p. 105.

Ibid.,  p. 30

Sears,   Freedman dan  Peplau , op.cit.,   p.169.

Ibid., pp. 141-143 .

Ibid . p. 144.

Ibid. , p. 145

Miarso, op.cit, p. 239.

Sadiman, op.cit.,  pp. 128-129.

Sadiman, Seligman dan Rahardjo, op.cit., p. 27

4 Tanggapan

  1. Artikel di blog ini bagus-bagus dan berguna bagi para pembaca.Anda bisa lebih mempromosikan artikel anda di Infogue.com dan jadikan artikel anda topik yang terbaik bagi para pembaca di seluruh Indonesia. Telah tersedia plugin/widget.Kirim artikel dan vote yang terintegrasi dengan instalasi mudah dan singkat.Salam Blogger!!

    http://www.infogue.com
    http://www.infogue.com/pendidikan/sikap_siswa_terhadap_smp_terbuka/

  2. wah artikel ini buagus pak bisakah kami diberi atau file yang dari krech tentang cognitive feeling dan action tendency

  3. perlu menyemak:)

  4. terima kasih infonya….

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: