LAHIR DAN MATI

Hari ini libur, umat islam  mengenang kelahiran Nabi Muhammad.  Besok, libur lagi, umat kristiani mengenang wafatnya Isa Almasih. Sangat jarang terjadi hari kelahiran dan kematian dikenang secara berturut-turut. Lahir dan mati, dua peristiwa yang pasti dialami oleh setiap manusia. Kita lahir untuk mati, kita mati karena lahir. Kelahiran awal kehidupan, kematian akhir kehidupan.  Lahir dan mati, terjadi di luar kehendak kita.  Tanpa kita minta, dua peristiwa itu telah dan (pasti) akan terjadi. Mungkin  kita menganggap dua hal itu adalah sesuatu hal yang biasa-biasa saja.   Seolah, lahir sudah menjadi hak kita, dan mati telah menjadi kewajiban (atau keharusan?) kita. Tak ada yang perlu dibahas. Tak ada yang perlu dipusingkan. Benarkah begitu? Saya tak bisa njawab. Tapi kita perlu bertanya: untuk apa kita lahir, dan mengapa kita  mati?  Kemana pertanyaan itu harus kita  sampaikan.  Kalo bertanya ke manusia, jawabnya pasti bermacam-macam.  Sepuluh orang penjawab, akan ada sepuluh macam jawaban. Tergantung cara pandang penjawabnya. Ada  jawaban yang filosofis, ada yang religius, ada yang humanis, ada yang pragmatis, ada yang biologis, ada yang pake logika, ada pula yang menjawab seketumunya.  Termasuk yang mana Anda? Terserah saja,  jawaban macam apa yang anda inginkan.  Bisa saja kita menganut semuanya, lalu kita bingung menyimpulkannya.  Bagi saya, satu-satunya yang berhak (dan mampu) menjawab dengan pas atas  pertanyaan hidup dan mati hanyalah dzat yang menciptakan hidup dan mati itu sendiri. Tuhan.  Semua terjadi atas kehendak-Nya.Tak mungkin Dia melakukan kehendak tanpa maksud yang besar.   Bertanyalah kepada-Nya: untuk apa kita dihidupkan kalo akhirnya harus Dia matikan juga. Bukankah Dia Maha Kuasa untuk (tidak) melahirkan dan (tidak) mematikan kita? Kalo Dia mau, bukankah kita bisa tetap hidup selamanya setelah kita “terlanjur”  Dia lahirkan? Bukankah Dia berkuasa untuk tidak melahirkan  dan tidak mematikan kita? Berkuasakah Tuhan untuk menciptakan makhluk hidup  yang tak bisa mati?  Ah, pertanyaan semakin ngaco. Astaghfirullah.Kembali ke topik saja.  Kita pasti (telah) lahir dan (akan) mati.  Sampai di sini, tak ada yang beda.  Yang berbeda diantara kita adalah,  apa yang kita perbuat setelah lahir sebelum mati.  Ada yang senang menyambut  kelahiran dan sedih membayangkan  kematian. Jangan-jangan, ada pula manusia yang berusaha keras menghindari kematian.  Biarkan saja kalo memang bisa. Hidup harus kita jalani, karena kita terlanjur lahir. Mumpung masih hidup, harusnya  kita ingat mati. Sebab orang mati nggak bakal ingat hidup.  Takut mati, jangan hidup. Takut hidup, mati saja.Selamat mengenang maulud Nabi Muhammad SAW, dan wafatnya Isa Almasih.

4 Tanggapan

  1. bukan selamat mengenang maulud Nabi Pak..
    mungkin lebih tepat nya, selamat mengenang Nabi Muhammad SAW…

    jadi yang di ingat bukan kelahirannya,
    tetapi eksistensi dari Rasulullah SAW dalam diri kita masing2..😉

  2. oRiDo: betul pak. Itu maksudnya. Aku akan banyak belajar dari blog Bapak. Makasih

  3. aku termasuk yang mana ya?🙂

  4. Kalau ingat mati tidak ingat bukit asri Ya boooo

    Matur nuwun

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: