Heboh, Digital Teacher ……

Selama tiga hari kemarin, saya mengikuti workshop. Agendanya menyusun program pelatihan  ICT bagi para guru.  Selain diikuti  teman-teman dari Pustekkom, kegiatan ini juga melibatkan peserta dari  Biro PKLN, Dikdasmen, PMPTK, Telkom, Intel, serta beberapa guru dan praktisi  ICT dalam pendidikan.Ketika membuka acara, Kepala Pustekkom meminta peserta untuk  mendesain suatu program yang  kira-kira bisa merangsang guru untuk memanfaatkan ICT dalam pembelajaran. Program ini harus tepat sasaran, smart, inovatif dan jangan itu-itu saja, pesan Kapustekkom. Kalo bisa,  bikin agar program ini  menjadi “heboh”. Ibarat sepak bola piala dunia, suasana heboh demam bola sengaja telah diciptakan jauh sebelum pertandingan digelar. Begitu Kapustekkom menganalogikannya.Ketika istilah “heboh” diucapkan Kapustekkom, beberapa peserta terlihat tersenyum-senyum. Entah apa maksudnya. Sebenarnya banyak pesan-pesan penting lain yang beliau disampaikan.  Namun, pesan heboh ini rupanya mendapat perhatian khusus dari peserta. Workshop-pun berjalan lancar. Minimal telah terjadi diskusi yang lumayan heboh.  Banyak gagasan, usulan  (atau keinginan?) terlontar di sini.  Ini cuplikan sebagian jalannya diskusi.

Salah satu peserta bicara: “Kebutuhan ICT dalam pendidikan, tak bisa di tunda-tunda lagi. Kita sudah jauh tertinggal dengan negara lain. Pokoknya, sebelum 2012 semua guru di Indonesia harus sudah mengenal ICT. Kalo tidak…, maka … ” dan seterusnya, saya lupa.  Peserta lain bertanya: “Lalu, apa yang harus kita lakukan terhadap para guru yang jumlahnya 2,7 juta  ini? Apakah mereka semua sudah siap ber-ICT? Bagaimana dengan para guru di kampung-kampung,  jangankan ber-ICT, pegang mouse saja masih gemetaran?”.  “Nah, betul itu, jangan-jangan kita terlanjur bicara  jauh  tentang ICT, padahal di sekolah listrikpun belum ada”, sahut peserta lain.   “Yah, kita sesuaikanlah dengan kondisi  dan kebutuhan masing-masing  daerah”, kata peserta lain. “Setuju, ICT kan bukan hanya komputer dan internet, sahut yang lain lagi. Peserta dari Dikdasmen bicara: ICT memang perlu bagi guru, tapi kita harus  hati-hati menerapkannya. Jangan sampai kehadiran ICT justru menggaggu tugas guru. Ingat, lanjutnya, tugas utama guru itu mengajar. Pelatihan ICT jangan lantas membuat  guru jadi tukang ICT. “Ini pesan titipan  dari Pak Direktur”, katanya.  …. . Dan, diskusi masih terus berjalan. Malah makin hangat (atau makin heboh?). 

“…Baiklah bapak  ibu semuanya, makin seru diskusi kita. Masalah-masalah inilah yang akan kita bahas  di sini. Mari kita pikirkan keterampilan ICT seperti apa yang perlu dikuasi oleh para guru di masa depan”,  kata moderator seakan bermaksud mengarahkan jalannya diskusi. … .

Lontaran ide,  urun rembug, saling usul dan kadang saling berbantah terus berlanjut.  Tentu disertai argumen masing-masing. Bukan hanya suasana serius yang terlihat, canda dan ketawa juga terasa. Nyatanya, di hari terakhir  workshop  berhasil menyusun  panduan  (istilah kerennya  grand design) program pelatihan ICT  untuk pendidikan.  Bahkan,  masih dipikirkan pula bagaimana memberi  tajuk   program pelatihan ini  agar lebih bernilai jual, terasa gregetnya, dan …”heboh” itu tadi. Ada peserta yang nyeletuk (atau canda kali): berikan saja  nama program ini “menuju era digital teacher”, ato …To built the future teacher… ato… Hahaaaaaa, …heboh nggak… (maksa).  Pokokya, target kegiatan tercapai. Acara ditutup.

Meskipun workshop telah  berakhir,  saya sendiri masih  bertanya-tanya (tapi dalam hati) : … “iya ya,  sebenarnya  ICT macam apa sih yang guru-guru perlukan saat ini? …Sekarang ini kita telah punya Jardiknas, Televisi Edukasi, Edukasi-net, siaran radio pendidikan, dan berbagai jenis program pembelajaran audio visual. Itukah yang mereka butuhkan? Atau barang kali ada bentuk ICT lain yang lebih pas buat mereka?. Lalu, jenis kompetensi macam apa pula yang mesti kita latihkan kepada 2,7 juta guru  yang kondisinya sangat bervariasi itu? Apa perlu  guru-guru harus menguasai  ICT? Kalau perlu, guru yang mana, dan kapan itu diperlukan?”….

Karena pertanyaan itu hanya saya sampaikan dalam hati, ya tentu saja  tak ada yang menanggapi.    Kalo pertanyaan itu saya ucapkan  ke forum, ya makin ketahuan dong kebodohan saya.  Ya iyalah. Lha mestinya kan saya harus bisa menjawab pertanyaan itu. Lha wong saya kerjanya di ICT center for education kok. Ssstttt…  

“Biarlah pertanyaan itu terjawab sendiri pada saatnya kelak”, kataku menghibur diri.   Tau ah. Saya mau pulang. Sudah dua hari gak ketemu anak (dan Istri).

Saya meninggalkan tempat workshop lewat jalan-jalan kampung.  Maksudnya biar gak macet. Tapi ternyata sama saja. Karena jalanan rusak, ya macet  juga.  Di saat jalan merayap itu saya memperhatikan  sebuah bangunan gedung SD yang kondisinya rusak parah. Atapnya hampir runtuh.   Halamannya  becek terguyur hujan semalam. Anak anak berseragam SD (sepertinya murid kelas satu) bermain becekan di halaman sekolah itu. Seorang ibu (guru kelas 1 kali ya)  berteriak-teriak melihat kelakuan anak didiknya. “….eeeiittt…., kotor, nati masuk angin…blablabla…. Siapa yang suruh main lumpur.”  Nggak ada murid  yang njawab. (memang nggak ada yang nyuruh toh). Murid-murid langsung bubar. Meninggalkan sekolah. Badan dan pakaian mereka penuh lumpur. Mungkin juga tas dan isinya. Besok pagi mereka akan datang ke sekolah itu lagi. Untuk belajar dan bermain(lagi).

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: