Pagi ini, dalam hujan deras, saya mengantar anak saya ke sekolah. Dua anak saya masih duduk di bangku SD. Sambil menunggu hujan reda, saya tak langsung pulang. Menunggu sampai mereka masuk kelas, dan mulai belajar.
Ternyata kelas anak saya pada jam pertama belajar Matematika. Suasana kelas dingin, pakaian siswa banyak yang basah kehujanan. Salam keibuan Bu Guru tiba-tiba terasa menghangatkan kelas. Saya amat terkesan dengan apa yang diajarkan Bu Guru. Ibu Guru menggambar dua buah lingkaran di papan tulis. Ia menamai lingkaran yang satu Laki-laki, sedangkan lingkaran yang lain Perempuan. Kedua lingkaran itu saling menabrak sehingga terbentuk sebuah bidang kecil yang menjadi bagian yang sama dari kedua lingkaran tersebut (ketika sekolah dulu, ini saya kenal dengan nama diagram Venn).
Sambil menunjuk bidang tersebut, Ibu Guru berkata, “Bidang ini milik bersama kedua lingkaran. Daerah yang meerupakan potongan kedua lingkaran ini, akan diisi hal-hal yang punya kesamaan baik yang dimiliki anak laki-laki maupun anak perempuan. Nah, mari kita isi bersama-sama, apa saja yang bisa kita masukkan di tempat ini!”
Murid-murid kemudian saling menyebutkan apa saja kesamaan antara anak lelaki dan perempuan seperti, “menangis, tertawa, makan, minum,” Mereka melanjutkan, “Kita semua bisa berantem, bisa bermain, dan kita semua suka es krim, dan masih banyak lagi.”
Setelah itu Ibu Guru menggambar lagi tiga buah lingkaran di papan tulis. Masing-masing lingkaran diberi nama Biru, Kuning , dan Merah. Sekali lagi ia menjelaskan, ketiga lingkaran itu saling menabrak satu sama lain sehingga tercipta sebuah bidang yang menjadi milik bersama. Bidang itu dipakai untuk menampung segala sesuatu dari ketiga kelompok yang memiliki kesamaan. Nah, apa yang harus kita masukkan dalam ruangan itu?
Murid kembali saling menjawab. Dengan metode mengajar yang pas, dan dengan gaya keibuannya, guru itu memang pinter memancing reaksi siswa. Akhirnya ada seorang anak yang maju ke depan. Sambil menunjuk bidang yang merupakan perpotongan ketiga lingkaran itu ia berkata, “Bidang yang dipakai untuk mengisi persamaan dari ketiga lingkaran terlalu kecil Bu. Kita perlu memperbesar agar semua kesamaan-kesamaan yang ada bisa tertampung di dalamnya.”
Tiba tiba hujan reda. Saya segera meninggalkan sekolah itu, sebelum pelajaran itu selesai. Tapi kegiatan belajar mengajar di kelas pagi itu telah menjadi inspirasi berharga dan bahan renungan buat saya. Oleh Bu Guru tadi, pelajaran Matematika yang terkenal kaku ternyata bisa disajikan secara kontekstual. Meskipun sering sulit, memang begitu seharusnya. Dari pelajaran Matematika seorang anak SD itu, saya jadi berpikir kemana-mana.
Apa yang dikatakan murid cerdas itu memang benar. Insan manusia itu pada kenyataannya memang memiliki lebih banyak kesamaan antara yang satu dengan yang lain daripada perbedaan-perbedaannya. Jadi, kita memerlukan ruang yang lebih luas untuk membubuhkan banyaknya kesamaan daripada perbedaan diantara kita. Memang, manusia itu unik. Tak satupun yang sama persis. Setiap kita punya karakter, keinginan, keyakinan, aspirasi, latar belakang, motif yang saling berbeda. Ini fitrah, tak perlu disesali. Tapi, sekali lagi diantara kita juga saling memiliki punya kesamaan. Dan persamaan itu, saya yakin jauh lebih banyak dan fundamental. Ya, karena kita semua sama-sama manusia, sama sama makhluk Tuhan, dan sama-sama makhluk sosial saling membutuhkan. Sekarang terserah kita, mau lebih mempermasalahkan perbedaan atau berupaya menemukan persamaan diantara kita. Dugaan saya, pada musim kampanye Pemilu ini, para politisi mungkin akan beramai – ramai saling menonjolkan perbedaan ketimbang persamaan. Maklum juga sih. Bagaimana dengan Anda?
DIarsipkan di bawah: RENUNGAN
salam kenal mas
Terkesan.Membaca posting judul di atas, andai saja lebih banyak lagi politisi mampu memposisikan diri lebih kepada semangat berbagi daripada semangat saling menghancurkan.Tidakn lama lagi Indonesia yang kita cintai bisa lebih maju lagi.
Salam kenal