Seseorang bukan hanya bisa mengamati obyek yang ada di luar dirinya, melainkan juga terhadap dirinya sendiri. Dengan menga-mati dirinya sendiri, seseorang akan memperoleh gambaran mengenai siapa dan bagaimana dirinya. Apa yang kita pikirkan dan rasakan tentang diri kita inilah yang oleh Rakhmat dinamakan konsep diri.[1] Dalam bahasa yang lain, Pudjijogiyanti mengartikan konsep diri sebagai pandangan dan sikap individu terhadap dirinya sendiri.[2] Pemahaman lebih jauh tentang konsep diri dapat dilihat dari berbagai definisi yang dikemukakan para ahli. Calhoun dan Acocella menyatakan bahwa konsep diri adalah gambaran mental seseorang yang meliputi pengetahuan, pengharapan dan penilaian terhadap diri sendiri.[3] Sedangkan menurut Klausmeier, konsep diri adalah sejum-lah persepsi seseorang terhadap dirinya sendiri. Klausmeier menjelas-kan pula bahwa konsep diri merupakan kesadaran/pemahaman seseorang atas siapa dirinya dan bagaimana penampilan serta kemampuannya. [4] Pendapat lain dikemukakan oleh Burns, yang menganggap konsep diri sebagai suatu organisasi dari sikap-sikap diri (self attitudes). Menurut Burns, konsep diri merupakan persepsi, konsep-konsep dan evaluasi individu mengenai dirinya sendiri, termasuk gambaran dari orang lain terhadap dirinya yang dia rasakan serta gambaran tentang pribadi yang dia inginkan dan dipelihara dari suatu pengalaman lingkungan yang dievaluasikan secara pribadi.[5] Sedangkan definisi Atwater, yang dikutip Tjipsastra, mengartikan kon-sep diri sebagai cara seseorang melihat diri sendiri, tersusun dari semua persepsi mengenai diri sebagai subyek dan obyek beserta perasaan-perasaan, nilai-nilai dan keyakinan-keyakinan yang ber-kaitan.[6]Dari beberapa pendapat tersebut dapat disimpulkan bahwa konsep diri adalah pemahaman/pikiran, perasaan, penilaian dan peng-harapan seseorang terhadap dirinya sendiri, termasuk perasaan seseorang tentang bagaimana orang lain menilai dirinya.Konsep diri mencakup aspek yang luas dalam kepribadian manusia. Paling tidak, menurut Hurlock, konsep diri meliputi tiga komponen yaitu: perceptual, conceptual, dan attitudinal.[7] Komponen perceptual merupakan gambaran-diri seseorang yang berkaitan dengan tampilan fisiknya, termasuk daya tarik/kesan yang dimilikinya bagi orang lain. Oleh Hurlock komponen perceptual ini juga disebut sebagai konsep diri fisik (physical self-concept). Adapun komponen conceptual, yang disebutnya juga sebagai konsep diri psikhis (psychological self-concept) merupakan gambaran ciri-khas seseo-rang atas dirinya, kemampuan/ ketidakmampuannya, latar belakang /asal-usulnya serta masa depannya. Sedangkan komponen attitudinal adalah perasaan-perasaan seseorang terhadap dirinya sendiri, sikap terhadap statusnya, kehormatan, rasa harga diri, rasa kebanggaan, rasa malu, dan sejenisnya.[8] Melihat ruang lingkupnya yang semacam itu, maka komponen attitudinal ini dapat dikatakan sebagai konsep diri yang termasuk aspek sosial. Sementara itu Shavelson, Hubner dan Stanton seperti dikutip Klausmeier, mengklasifikasikan konsep diri menjadi dua, yaitu konsep diri akademik dan konsep diri non-akademik. Konsep diri non-akademik meliputi konsep diri sosial, konsep diri emosional dan konsep diri fisik.[9] Dibanding dengan pendapat Hurlock, klasifikasi ini tampaknya agak berlainan, karena dalam klasifikasinya Hurlock tidak menyebutkan adanya konsep diri akademik dan emosional. Namun demikian, kedua pendapat ini pada dasarnya tidak berbeda, sebab kemampuan akademis dan aspek emosional seseorang sebenarnya berkaitan dengan aspek psikhis. Oleh karena itu komponen akademik dan emosional ini bisa saja dimasukkan ke dalam psykhological self-concept sebagaimana disebutkan Hurlock. Mengenai komponen konsep diri ini, Burns menjelaskannya dengan sudut pandang yang agak berbeda. Menurutnya, konsep diri meliputi empat komponen yaitu: kognitif (keyakinan atau pengeta-huan), afektif/emosional, evaluasi dan kecenderungan merespon.[10] Hal ini tentu saja didasari oleh pandangan Burns yang menganggap konsep diri sebagai organisasi dari sikap-sikap diri (self-attitudes). Dengan pandangan yang demikian, maka menurut Burns komponen konsep diri sama halnya dengan komponen sikap pada umumnya. Sebagai suatu sikap, konsep diri tentu saja mempunyai obyek, yang dalam hal ini adalah dirinya sendiri. Burns dengan mendasarkan pada pendapat Strang dan Staines, menyebutkan adanya tiga aspek diri yang disikapi, yaitu : diri yang dikognisikan (diri yang dasar ), diri sosial (diri yang lain), dan diri ideal.[11] Konsep diri dasar merupakan persepsi individu mengenai dirinya secara apa adanya seperti kemampuannya, statusnya, dan peranannya. Diri sosial adalah apa yang diyakini individu berdasarkan bagaimana orang lain mengevaluasi dirinya. Sedangkan diri ideal adalah semacam pribadi yang diharapkan oleh individu tersebut.Pendapat lain yang lebih rinci juga disampaikan oleh Cawagas. Menurut Cawagas, seperti dikutip Pudjijogyanti, konsep diri mencakup seluruh pandangan individu terhadap dimensi fisiknya, karakteristik pribadinya, motivasinya, kelemahannya, kepandaiannya, kegagalan-nya dan sebagainya. Ditegaskan pula bahwa konsep diri meliputi dua komponen yaitu komponen kognitif dan komponen afektif. [12] Komponen kognitif merupakan pengetahuan/pemahaman individu tentang keadaan atau fakta-fakta yang ada pada dirinya. Komponen kognitif ini memberikan penjelasan tentang gambaran diri (self-picture) seseorang, sehingga akan membentuk citra diri (self-image) orang tersebut. Misalnya seorang anak menggambarkan dirinya sebagai: saya adalah seorang pria, bertubuh tegap, seorang siswa SMP Terbuka, anak sulung, anak desa, anak cerdas, anak yang hobi membaca, dan seterusnya. Adapun komponen afektif, merupakan penilaian atau perasaan individu terhadap dirinya. Peniliaian secara afektif akan membentuk penerimaan terhadap diri (self-acceptance) dan harga diri (self-esteem) seseorang. Rasa harga diri sebagai hasil penilaian diri misalnya dapat berupa: saya siswa paling pandai di kelas, saya disenangi oleh teman, saya anak yang selalu sukses mengatasi masalah, dan sebagainya.Konsep diri merupakan salah satu faktor yang sangat menentukan keberhasilan seseorang dalam berinteraksi sosial sebab, menurut Rakhmat, seseorang memiliki kecenderungan untuk berperi-laku sesuai konsep dirinya.[13] Seperti apa kualitas konsep diri seseo-rang, tentu saja tergantung bagaimana individu tersebut memandang dirinya sendiri dalam berbagai aspeknya. Setiap individu memiliki kualitas konsep diri yang berbeda-beda. Kualitas konsep diri berada dalam kontinum dari konsep diri yang negatif/rendah hingga konsep diri yang positif/tinggi. Secara ekstrim, konsep diri seseorang dapat dikategorikan ke dalam kelompok konsep diri negatif atau kelompok konsep diri positif. Namun, dalam kenyataannya tidak ada individu yang konsep dirinya sepenuhnya negatif atau sebaliknya. Meskipun demikian, secara teoritis banyak ahli yang menggunakan perbedaan kualitas konsep diri tersebut untuk menjelaskan karakteristik perilaku seseorang.Calhoun dan Accocela menjelaskan kualitas konsep diri seseorang berdasarkan tiga dimensi: pengetahuan, evaluasi dan pengharapan seseorang atas dirinya. Atas dasar itu, mereka mendis-kripsikan beberapa karakter seseorang sesuai kualitas konsep dirinya, yang secara ringkas dapat dijelaskan sebagai berikut.Pada dimensi pengetahuan, jika seseorang memiliki konsep diri negatif maka ia tidak mempunyai pandangan yang teratur tentang dirinya sendiri, sehingga ia tidak mempunyai kestabilan dan keutuhan diri. Seseorang dengan konsep diri negatif, ia tidak mengetahui siapa dirinya, apa kelebihan / kekurangannya serta apa yang dia hargai dalam hidupnya. Sebaliknya, orang dengan konsep diri positif ia akan dapat mengenal dengan baik siapa dirinya. Selain itu ia akan dapat memahami dan menerima berbagai fakta dan keadaan yang ada pada dirinya secara apa adanya. Pada dimensi evaluasi, konsep diri yang negatif merupakan penilian yang negatif terhadap diri. Orang dengan konsep diri negatif, tidak pernah menilai baik diri sendiri. Baginya, apapun yang dicapainya dianggap tidak berharga dibandingkan dengan yang dicapai orang lain. Orang semacam ini sangat mungkin mengalami kecemasan karena menghadapi informasi dirinya sendiri yang tidak dapat diterimanya dengan baik. Keadaan sebaliknya akan terjadi pada orang yang memiliki konsep diri positif.Sedangkan dari dimensi pengharapan, seorang dengan konsep diri negatif terlalu banyak atau bisa juga terlalu sedikit harapan dalam hidupnya, yang sebenarnya tidak sesuai dengan keadaan dirinya. Oleh karena tidak punya harapan, maka dia tidak mengharapkan suatu kesuksesan apapun, sehingga dia tidak akan pernah merasa sukses. Bisa juga sebaliknya, karena harapannya terlalu tinggi, maka apa yang telah dicapainya dianggap masih jauh dari harapannya. Dengan kata lain, orang dengan konsep diri negatif mempunyai pengharapan yang tidak realistis. Sedangkan orang dengan konsep diri positif akan mempunyai pengharapan dan cita-cita yang realistis sesuai dengan keadaan dirinya. Orang dengan konsep diri positif akan dapat bertindak dengan berani dan spontan serta memperlakukan orang lain dengan hangat dan hormat.[14]Jadi, pada dasarnya konsep diri yang negatif adalah pemahaman yang tidak tepat tentang dirinya sendiri, pengharapan diri yang tidak realistis dan penilaian yang rendah pada diri sendiri (harga diri yang rendah). Sedangkan konsep diri yang positif adalah pengetahuan yang luas dan bermacam-macam tentang dirinya sesuai keadaan sebenarnya, pengharapan diri yang realistis dan harga diri yang tinggi.[15] Indikasi kualitas konsep diri semacam itu juga dikemukakan oleh Burns. Menurutnya, jika seseorang memiliki konsep diri yang positif berarti ia akan menilai, menghargai, merasa dan menerima keadaan dirinya secara positif. Sebaliknya, seseorang yang memiliki konsep diri yang negatif berarti ia memiliki evaluasi diri yang negatif, membenci diri, perasaan rendah diri serta tiadanya penghargaan dan penerimaan terhadap diri sendiri. Dijelaskan lebih lanjut bahwa orang-orang dengan peniliaian diri yang tinggi dan perasaan harga diri yang tinggi umumnya mereka menerima keadaan dirinya. Sebaliknya mereka yang menilai dirinya secara negatif, akan mempunyai perasaan harga diri yang kecil, penghargaan diri yang kecil ataupun penerimaan diri yang kecil.[16]Mengenai hal ini, William D. Brooks dan Philip Emmert juga mengemukakan pendapatnya, seperti yang dikutip oleh Rakhmat. Menurut mereka, ciri-ciri orang yang memiliki konsep diri negatif yaitu: (1) peka atau tidak tahan terhadap kritik dan mudah marah jika dikritik karena dianggap menjatuhkan harga dirinya, (2) sangat responsif terhadap pujian, senang dipuji meskipun dia sering berpura-pura menghindari pujian, (3) bersikap hiperkritis terhadap orang lain, selalu mengeluh, mencela atau meremehkan terhadap apa dan siapapun, juga tidak pandai mengungkapkan penghargaan dan pengakuan terhadap orang lain; (4) cenderung merasa tidak disenangi dan tidak diperhatikan orang lain, menganggap orang lain sebagai musuh, (5) pesimis dan enggan berkompetisi dengan orang lain dalam berprestasi. Selanjutnya dijelaskan pula beberapa ciri orang yang memiliki konsep diri positif, yaitu: (1) yakin akan kempuannya mengatasi masalah; (2) merasa setara dengan orang lain; (3) menerima pujian (secara wajar) tanpa rasa malu; (4) menyadari bahwa setiap orang mempunyai berbagai perasaan, keinginan dan perilaku yang tidak seluruhnya disetujui oleh masyarakat; serta (5) mampu memperbaiki dirinya karena ia sanggup mengungkapkan aspek-aspek kepribadian yang tidak disenanginya dan berusaha mengubahnya. [17] Berdasarkan uraian tersebut, dapat disimpulkan bahwa konsep diri adalah pemahaman, perasaan dan pengharapan seseorang terhadap dirinya sendiri, baik secara fisik, psikhis maupun sosialnya. Kualitas konsep diri seseorang dapat bersifat negatif atau positif tergantung bagaimana pandangan seseorang terhadap dirinya sendiri. Konsep diri negatif merupakan pemahaman, penilaian/ perasaan dan pengharapan diri yang negatif atas diri sendiri. Begitu pula sebaliknya untuk konsep diri yang positifCiri-ciri seseorang yang memiliki konsep diri positif antara lain ; memahami dan menerima keadaan dirinya, perasaan harga diri yang tinggi, mempunyai kepercayaan diri, menghargai orang lain dan mempunyai harapan yang realistis dalam hidupnya. Demikian pula jika yang terjadi sebaliknya, menunjukkan adanya indikasi seseorang memiliki kualitas konsep diri yang negatif.
R.B. Burns, Konsep Diri. Teori, Pengukuran, Perkembangan dan Perilaku . terj. Eddy (Jakarta : Arcan, 1993 ), pp. 63-65Tetty E. Tjipsastra. ”Hubungan antara Konsep Diri, Motivasi Berprestasi dengan Prestasi Belajar Anak-anak Panti Asuhan dan Perbedaannya dari Anak-anak yang Diasuh dalam Keluarga”. Tesis ( Jakarta: Program Pascasarjana Universitas Indonesia, 1996), p.p. 33-34.
Elizabeth B. Hurlock, Personality Development. (New Delhi : Tata McGraw-Hill Publishing Company Ltd., 1976) , p. 22Ibid.Klausmeier, op. cit. , pp. 410-411Burns, op. cit. , p. 66
Ibid. p. 81
Pudjijogyanti, loc. cit.Rakhmat, op. cit. , p.104Calhoun dan Acocella, op. cit., pp. 72-74Ibid. p. 91
Burns, op. cit. , p. 72
Rakhmat, op.cit., p. 105
Clara R. Pudjijogyanti, Konsep Diri dalam Pendidikan ( Jakarta : Arcan, 1995), p. 2
Herbert J. Klausmeier, Educational Psychology, Fifth Edition. ( New York : Harper & Row Publishers, 1985), p. 410
Jalaluddin Rakhmat, Psikologi Komunikasi (Bandung : PT Remadja Rosdakarya, 1998), p. 100
James F. Calhoun and Joan Ross Acocella, Psikologi Tentang Penyesuaian dan Hubungan Kemanusiaan, Terj. RS. Satmoko ( Semarang : IKIP Semarang Press, 1990), p. 90
DIarsipkan di bawah: PEMBELAJARAN | Tagged: Konsep diri, SMP Terbuka
Salam kenal dari Ita buat Aristo….sangat bgus artikel anda.Saya mau tanya nich,,konsep diri akademik n non-akademik khn ad yach,bgaimn dngan hrga diri akademik apkah ad referensi yang khusus utk pembahasan trsbut?? kbetuln sy sedang mengerjakan skrpsi n skrpsi sy tntang harga diri akademik. Apabila anda mau mmbantu sy mngucapkn beribu2 bnyak terima kasih….
Mohon di balas d email yg tlah sy cantumkan…(itayumi@yahoo.com)
Terima kasih………
Loud clap… scientific banget plus dengan bibliografi-nya
Ada buku bagus tentang konsep diri yang cocok bagi remaja… dan nggak se-high tulisan di atas.
Silakan lihat, review Change to be Super di sini
wow…lengkap bgt artikelnya…teori acuannya juga banyak…salut…;)
nunut copy tulisannya ya… keep writting mas Aristo…matur nuwun…:)
thanks for the article, its very helpful
Lebih dari standing applause bwt artikelnya, keren abiez …!!! kebetulan materi artikelnya berhubungan dengan skripsi yang akan saya buat. Namun saya stuck di acuan buku yang men-support skripsi saya. Mau minta saran mas, buku panduan yang bagus buat skripsi saya. Judulnya “Self Concept Students of English Education Department in Their English Ability”. tolong referensiin ke odyeus_zolla@yahoo.com
makasih buanyyyak Mas.
buku self conceptnya Burn saya kira cukup membantu skripsi anda. dah punya kan?. makasih kembali. cepet lulus ya.