Mengapa Guru Enggan Menggunakan Media Pembelajaran

Kita tentu sepakat, bahwa media pembelajaran  sangat membantu mencapai  tujuan pembelajaran.  Kenyataannya,   banyak jenis dan ragam media di sekitar kita yang dapat  kita temukan, kembangkan dan manfaatkan  untuk  menunjang pembelajaran kita.  Masalahnya adalah, mengapa sampai saat ini masih ada guru yang enggan menggunakan media dalam mengajar? Beberapa alasan  berikut, mungkin merupakan jawabannya Pertama, guru menganggap bahwa meenggunakan media itu menambah repot.  Jika kita jujur,  barangkali inilah alasan utamanya. Mengajar dengan menggunakan media memang perlu persiapan. Apalagi jika media itu menggunakan  peralatan elektronik seperti video atau komputer. Guru sudah repot dengan membuat  persiapan  mengajar (SATPEL), jadwal yang  padat, mengejar trget kurikulum, dan lain-lain. Belum lagi repot dengan urusan keluarga. Mana sempat lagi memikirkan media. Demikian kurang lebih alasan yang sering dikemukakan oleh para guru. Padahal kalau saja para guru itu mau berpikir dari dari aspek lain bahwa dengan media pembelajaran akan lebih efektif, maka alasan repot itu akan menjadi tidak relevan lagi. Hal yang harus kita pertimbangkan adalah bahwa  dengan sedikit repot, namun dengan media kita akan memperoleh hasil yang optimal. Bannyak jenis media sederhana yang bisa digunakan dalam jangka waktu lama.   Skali kita menyiapkan media, selanjutnya tidak repot lagi, karena media akan dapat digunakan untuk beberapa kali sajian dengan sasaran yang berbeda-beda. Kedua, media itu barang canggih dan mahal.Pandangan seperti ini juga masih ada di kalangan para guru. Alasan ini tentu tidak sepenuhnya benar. Media tidak selalu canggih dan mahal. Nilai penting dari dari sebuah media bukan terletak pada kecanggihannya, apalagi kemahalan harganya, melainkan terletak pada pada efektifitas dan efisiensinya dalam membantu proses pembelajaran. Banyak media sederhana yang dapat dikembangkan sendiri oleh guru dengan beaya murah. Kalaupun  kita mempergunakan jenis media canggih semacam media audio-visual, hal ini juga akan menjadi murah jika dimanfaatkan oleh lebih banyak siswa.   Ketiga, tidak bisa atau takut menggunakan (gagap teknologi).Gagap teknologi (gatek), ternyata juga masih dialami oleh sebagian guru kita. Ada beberapa guru yang “takut” dengan peralatan elektronik. Mungkin takut kesetrum atau takut salah pencet. Alasan ini menjadi lebih parah kalau ditambah takut rusak. Dengan alasan seperti itu,  maka di beberapa sekolah  banyak peralatan media yang masih tetap tersimpan rapih di runag kepala sekolah, belum pernah dimanfaatkan sejak peralatan itu ada.. Sekali lagi perlu ditetakkan bahwa lebih baik peralatan itu rusak dipakai daripada rusak (juga) dalam kemasan. Kalau saja kita mau mencoba dan sedikit berlatih, membiasakan diri, istilah   “tidak bisa “  dan “takut”  tak akan  lagi menjadi alasan Keempat, media itu hanya untuk hiburan sedangkan belajar itu harus serius.Alasan ini memang jarang ditemui, namun ada guru yang berpandangan demikian. Jaman dulu, kegiatan belajar merupakan kegiatan yang serius sedangkan media identik dengan hiburan. Tidak mungkin melakukan proses belajar sambil santai. Paradigma belajar kini sudah berubah.  Kalau belajar dapat dilakukan dengan menyenangkan, mengapa harus dilakukan dengan tegang dan menyeramkan. Seharusnya para praktisi pendidikan  harus bisa mengembangkan media yang  bisa membelajarkan siswa sekaligus menghibur.  Alangkah idealnya jika kita mampu membuat suatu media yang bisa menyajikan pesan-pesan belajar, sambil menghibur siswa.  Ini memang menuntut kreatifitas kita.  Jika diibaratkan minuman, media hiburan itu seperti cocacola, sedangkan media pembelajaran seperti jamu.  Wajar jika anak lebih suka minum cocacola dibanding jamu. Sekalipun kita mengatakan  bahwa media pembelajaran itu penting dan menyehatkan bagai jamu, namun anak tetap saja lebih suka memilih media hiburan yang jelas-jelas lebih segar bagaikan cocacola. Tugas kita adalah bagaimana bisa membuat jamu rasa cocacola, membuat media pembelajaran yang menarik dan menyenangkan namun cocok sebagai sumber belajar siswa. Kelima, tidak tersedia media di sekolahTidak tersedianya  media di sekolah, mungkin   ini alsan yang sering ditemui di lapangan, terutama di daerah-daerah.  Akan tetapi seorang guru tak boleh menyerah begitu saja.  Guru adalah seorang profesional yang harus penuh inisiatif dan kreatifitas. Perlu diingat bahwa, salah satu kompetensi yang harus dimiliki oleh guru yang profesioal adalah kemampuannya dalam memanfaatkan media pembelajaran. Seperti telah dijelaskan sebelumnya, media tidak harus canggih. Banyak jenis media yang dapat dibuat sendiri oleh guru.  Guru bisa membimbing siswa , misalnya, untuk mengoleksi berbagai benda, binatang atau  tumbuhan tertentu yang kemudian disimpan secara khusus untuk dijadikan sebagai sumber belajar bagi siswa. Jika setiap guru melakukan hal ini sesuai sesuai bidang pelajaran masing-masing,  maka   alangkah beraneka ragamnya jenis sumber belajar yang ada di sekolah. Bagi pimpinan sekolah, pengadaan media pembelajaran di sekolah hendaknya juga menjadi program rutin yang perlu diperhatikan, terutama untuk pengadaan jenis media yang tidak mungkin dibuat sendiri oleh guru. Jangan biarkan ruang kelas gersang hanya ada     papan tulis dan kapur. Keenam, Kebiasaan guru mengandalkan ceramah.Mengajar dengan hanya mengadandalkan verbalistik saja memang lebih mudah, tidak perlu banyak persiapan.  Dari kepentingan guru, cara tersebut memang lebih enak. Namun kita harus mempertimbangkan kepentingan siswa yang belajar, bukan selera guru semata.  Bagi guru yang pandai bicara,   mengajar dengan mengandalkan ceramah  mungkin saja bisa menarik perhatian siswa.  Namun tidak semua guru memiliki kepiawaian untuk “berpidato”  yang mampu memikat seluruh siswanya.  Lagi pula, bukankah tidak semua topik dan jenis materi pelajaran bisa atau cocok untuk disajikan melalui ceramah?  Seorang guru yang ahli berceramah sekalipun , justru akan semakin efektif  jika ceramah tersebut juga dibantu dengan berbagai macam media penunjang.  Guru yang baik perlu menggunakan multi metode dan multi media dalam melakukan kegiatan pembelajaran.   Media pembelajaran, bukan sekedar berfungsi sebagai alat bantu mengajar, melainkan media itu sendiri juga dapat memerankan fungsi sebagai penyampai pesan belajar.    Dengan begitu, tidak semua  informasi pelajaran harus disajikan oleh guru.  Apalagi kita menyadari bahwa guru bukanlah manusia super yang serba tahu tentang segala informasi. Untuk itu, setiap kali  menjalankan perannya sebagai pengajar, guru membutuhkan bantuan media.  Dalam pembelajaran,  tak ada salahnya guru  berbagi peran dengan media.  Biarkanlah media membantu memerankan sebagian  tugas kita  untuk menyajikan informasi belajar. Dengan begitu, para guru akan lebih banyak memiliki waktu untuk melakukan peran lain yang tak kalah penting. Di lain fihak, media hanya sebuah alat.  Di balik alat itu adalah guru, yang tetap memiliki peran sentral dalam proses pembelajaran. Bagaimanapun,  proses pendidikan membutuhkan “sentuhan manusiawi”  yang tak bisa diperankan oleh media manapun. Secanggih apapun media itu, pasti memiliki kelemahan. Media  ibarat sebuah “kereta” yang efektifitasnya sangat tergantung pada pengendaranya.  Adalah tugas guru untuk memberdayakan kereta itu, sehingga kita dapat mencapai   tujuan yang diharapkan

3 Tanggapan

  1. Hanya saja … jangan lupa bahwa media itu hanya sekedar media. Ada guru yang saking asyiknya degan media malah dia kebablasan, lupa fungsi utamanya … yaitu menyampaikan pesan / ilmunya.

    Selamat nge-blog.

  2. Saya juga sedang belajar menggunakan media-media pembelajaran yg memungkinkan variasi proses pembelajarn dan evaluasi/penilaian.

    -Salam-

  3. Benar sekali Pak,

    Mengubah mind setting guru agar tidak menganggap teknologi sebagai musuh memang suatu tantangan tersendiri. Satu hal yang dapat dijadikan salah satu alternatif membangun mind setting yang positif terhadap teknologi adalah tak lain dan tak bukan yaitu berusaha menggunakannya semaksimal mungkin, membiasakannya sesering mungkin. Para guru harus (sekali lagi, harus) di-encourage untuk terus penasaran terhadap teknologi tanpa merasa takut untuk menggunakannya. Tapi ya itu Pak, kita harus benar-benar melihat aspek androgogy-nya, karena mengajarkan sesuatu, apalagi teknologi pada anak muda sangatlah berbeda dengan orang dewasa/seniors. Suatu tantangan yg harus dijawab supaya suatu saat, anytime soon, para guru-guru kita menjadi proaktif dalam memanfaatkan teknologi. Dapat salam dai teman-teman bidang TP Pak! :)

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.

%d bloggers like this: